AJI Bandar Lampung

Menyemai Sehatnya Padi Organik di Lembah Suoh

Sirwanto (40) sedang menyemprotkan pupuk organik cair (POC) ke sawahnya, Rabu (16/12). Penggunaan pupuk organik mulai dilakukan sejumlah petani di Suoh, Lampung Barat. (Annisa Diah/Teknokra.com)

LAMPUNG BARAT – Siswanto (40) sigap meracik pupuk organik cair (POC) yang telah dia siapkan. Setelah larut sempurna, pupuk itu dimasukkan ke tanki biru berukuran sepunggung orang dewasa yang dia bawa.

Sedikit berat, Siswanto menghela nafas panjang sebelum tanki itu ia gendong seperti mengenakan bagpack.

Setelah mengenakan sepatu boot, Siswato berjalan ke area persawahan yang terhampar di hadapannya.

Kegiatan ini hampir setiap hari dilakukan petani itu di lahan sawah miliknya yang berada di Pekon Tugu Ratu, Kecamatan Suoh, Lampung Barat.

Penggunaan POC ini sudah sekitar empat tahun dijalani Siswanto setelah mengikuti pelatihan dari salah satu NGO terkait pertanian ramah lingkungan.

“Saya pelatihan angkatan ketiga. Selepas pelatihan, kita tetap sering berkumpul, kalau ada masalah kita pecahkan bersama. Kalau ada kekurangan juga kita diskusikan bersama,” kata Siswanto, akhir pekan kemarin.

Bahan utama dalam membuat POC yang Sirwanto gunakan adalah urin kelinci. Menurut Siswanto, urin kelinci memiliki kandungan yang baik bagi tanaman.

Urin ini ia dapatkan dari pemeliharaan kelinci dan juga membeli dari peternak. Menurutnya, tanaman organik yang diberi POC urin kelinci lebih hijau, tekstur tanah dan tanamannya juga lebih baik dibanding pertanian konvensional.

Pertanian organik tekan biaya produksi
Dari sisi ekonomi, Sirwanto mengungkapkan, pertanian organik mampu menekan biaya produksi dibandingkan pertanian yang menggunakan pupuk kimia.

Untuk setengah hektare lahan hanya membutuhkan 20 liter urin kelinci. Jika dihitung secara nominal, pertanian organik menguntungkan.

“Kita hanya mengeluarkan ongkos bajak dan ongkos tanam, kalau untuk pupuk kan kita bikin sendiri. Jadi paling kita hanya mengeluarkan uang sekitar Rp200 ribuan untuk pupuk. Kalau konvensional, kan harus pakai pupuk urea yang setiap panen minimal empat karung, belum termasuk Foska dan HCL,” kata Siswanto.

Memang, di masa-masa permulaan pertanian organik, Siswanto hanya mampu memanen sekitar 13 karung padi. Namun, saat ini sudah mencapai sekitar 17 karung padi.

“Di awal itu memang stres, karena biasa kita makan enak, tapi karena pendapatan berkurang jadi beda,” ungkap Sirwanto.

Selain itu, keuntungan lain yang ia rasakan yaitu pemakaian bahan-bahan organik dapat menggemburkan tanah. Tekstur tanah pun masih tetap bagus dan lentur walaupun tidak diberi air selama tiga hari.

“Saya sudah menikmati hasil bertani organik ini, petani organik itu punya kelebihan tersendiri, kalau dulu tanah sempat rusak, kita kembalikan lagi. Selain itu ekosistempun tetap berjalan dengan baik,” kata Siswanto.

Menjaga ekosistem
Sirwanto bukan satu-satunya petani organik di Lembah Suoh. Salah satu petani lainnya, Sugihartono (42), sudah menekuni pertanian organik sejak tahun 2012. Menurutnya, sebelum beralih ke pertanian organik, tanah di lahan sawahnya rusak. Namun, kini berangsur-angsur membaik.

“Untuk tanah, sebelum beralih organik itu rusak kondisinya. Saat dicangkul dan dibajak susah karena keras. Kelebihan bertani organik, beras juga menjadi makin sehat dan ekosistem lebih terjaga,” kata Sugihartono.

Ada dua jenis kompos yang ia gunakan yaitu kompos padat dan cair. Ia mengibaratkan kompos padat sebagai ‘nasi’ untuk tanah, sedangkan POC serta PPC (pupuk pelengkap cair) itu sebagai ‘lauk’ makanannya.

Ketika masa panen selesai, jerami hasil produksi sebelumnya tidak dibakar tapi dibiarkan di lahan, dan selanjutnya disemprot mikro organisme lokal (MOL) agar tidak busuk. Kemudian lahan tersebut barulah dibajak. Untuk pemberian pupuknya ada dua cara yaitu sebelum dibajak atau sesudah ditanam dengan cara disebar.

“Prinsipnya apa yang kita ambil dari lahan ya kita kembalikan lagi. Karena bertani organik artinya mempertahankan ekosistem yang ada di dalamnya seperti keong, laba-laba, katak, tidak ada alat atau bahan lain. Jika pakai non-organik pasti hewan-hewan tidak ada yang mau datang,” kata Sugihartono.

Komunitas Petani Organik
Sugihartono dan Sirwanto adalah dua dari 100 petani yang tergabung dalam Komunitas Petani Organik (KPO) Lembah Suoh, yang anggotanya berasal dari Kecamatan Suoh dan Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat. Sebanyak 37 anggota di komunitas tersebut telah memiliki sertifikat pertanian organik.

Ketua KPO Lembah Suoh, Edi Santoso menjelaskan, untuk mendapatkan sertifikat pertanian organik, petani harus melalui berbagai persyaratan.

Syarat-syarat itu menurut Edi antara lain: tidak boleh menggunakan bahan-bahan kimia, air yang masuk ke lahan harus disaring dengan tanaman eceng gondok untuk mensterilkan residu kimia dari lahan sebelumnya, dan di keliling lahan itu harus ada buffer zone.

“Buffer zone gunanya untuk mengantisipasi tetangga yang memakai racun kimia agar tidak mengenai lahan kita yang organik. Tetapi kalau misalnya lahan itu sumber airnya dari sumber mata air langung bisa langsung hanyut,” kata Edi.

KPO secara rutin mengadakan pertemuan agar petani mulai beralih ke organik. Menurutnya, mengajak petani untuk beralih ke organik membutuhkan perjuangan yang tak mudah. Tiap pertemuan dilakukan evaluasi dan pengembangan komunitas. Lewat komunitas, kerap juga dilakukan pelatihan-pelatihan bagi petani.

“Dulu kita mengadakan pertemuan rutin setiap satu bulan untuk membahas permasalahan di tengah petani. Karena untuk mengajak teman-teman untuk bertani organik ini perjuangan sangat luar biasa. Namun karena kesibukan, kita putuskan untuk melakukan pertemuan setiap enam bulan sekali,” kata Edi.

Akses dan pasar masih terbatas
Beras organik Suoh Lampung Barat dibandrol dengan harga yang variatif tergantung varietasnya.

Paling murah dibandrol dengan harga Rp12.000 per kilogram (kg). Untuk yang paling tinggi, yaitu jenis beras hitam, dibandrol dengan harga Rp20.000 per kg. Untuk beras biasa (non-organik) biasa dibandrol dengan harga Rp8.000 per kg.

“Kalau untuk harga kita berpatokan pada bensin, kalau di sini ecerannya sekitar Rp10.000. Makannya kita patok standar paling nggak satu kilo gabah (padi) itu kita dapet satu liter bensin,” kata Edi.

Harga yang lebih mahal di tingkat konsumen, menurut Edi, karena proses bertaninya yang lebih sukar bila dibanding pertanian konvensional. Selainitudipengaruhi akses transportasi yang sulit.

“Untuk masalah biaya bergantung lahannya juga. Tapi yang kita tekankan yaitu ke-sehatnya dulu, alamnya terjaga sehatnya dapet,” jelas Edi.

Salah satu konsumen beras organik dari KPO Lembah Suoh, Ashadi Maryanto mengungkapkan lebih memilih beras organik karena aspek kesehatan. Selain itu, sebagai apresiasi terhadap petani yang telah memuliakan lahan dengan berorganik. Ashadi mengonsumsi beras organik sejak tiga tahun yang lalu.

“Faktor utamanya jelas karena faktor kesehatan, tetapi dengan membeli beras organik kita juga mengedukasi tentang pemuliaan tanah,” lata Ashadi.

Menurut Ashadi, mengonsumsi beras organik membuat lebih cepat kenyang. Dia mengungkapkan sekali makan dengan beras biasa bisa menghabiskan 200 gram, dengan beras organik hanya 100 gram sudah kenyang.

“Beras organik ini agak beda, sebenarnya tidak terukur secara laboratorium, tetapi bisa kita rasakan. Dari segi tampilan, di kelompok Lembah Suoh sudah bagus, tidak ada bedanya sama beras biasa,”kata Ashadi.

Ashadi bahkan tidak keberatan merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan beras organik. Menurutnya, sudah menjadi konsekuensi beras organik lebih mahal karena pengelolahan yang ekstra. Namun, menurutnya dapat lebih murah jika akses jalan yang bagus.

“Mahal itu tidak sebanding dengan nilai kesehatan yang ditawarkan dengan beras itu. Sehingga kita perlu juga mengapresiasi petani dengan sistem organik,” kata Ashadi.

Kualitas pengairan menentukan hasil
Akademisi Universitas Lampung (Unila) sekaligus Ahli Tanaman Pangan, Kuswanta Futas Hidayat mengungkapkan, tidak ada kriteria khusus mengenai tanah atau sumber daya lain untuk pertanian organik. Namun, salah satu hal penting yang harus diperhatikan yaitu sumber pengaliran air yang dipakai untuk bertani organik.

“Kualitas yang dihasilkan dari produk pertanian bergantung dengan air yang dipakai. Hal ini karena air digunakan sebagai media. Sumber air tidak boleh bercampur dengan pengaliran yang konvensional, karena hal tersebut akan mencemari pertanian organik,” kata Kuswanta.

Sejalan dengan hal tersebut, jika dilihat dari segi pengairan pertanian di Lembah Suoh yang berasal langsung dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), maka Kuswanta pun berpendapat bahwa dapat dipastikan kualitas yang dihasilkan akan bagus.

“Karena air kan membawa berbagai unsur hara. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka bisa saja pertanian organik tersebut jadi tidak murni lagi,” lanjut Kuswanta.

Ia juga menjelaskan, pertanian organik pada dasarnya memanfaatkan sumber daya lokal yang nihil efek mencemari lingkungan. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar lingkungan bisa tetap lestari dan dapat digunakan secara berkelanjutan.

“Jadi kita bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sana, misalnya di Lampung Barat banyak peternakan sapi, kambing, atau unggas. Nah pupuk yang digunakan bisa dari bahan-bahan tersebut,” kata Kuswanta.

Padi organik ikon Suoh
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Barat, Onni Violetta Saragi mengatakan, pemerintah kabupaten akan berupaya membantu petani organik dalam segi pemasaran.

Menurut Onni, hal tersebut dilakukan agar beras organik Lampung Barat dapat bersaing di pasar yang lebih luas dan mendapat kepercayaan masyarakat. Sehingga petani bisa mendapatkan harga yang lebih baik yang akan berdampak pada kesejahteraan mereka.

“Kita sudah sosialisasikan hal ini, dan sudah ada salah satu CV di Bandar Lampung yang sudah taken kontrak. Mulai Januari dari provinsi sudah akan ada yang menampung beras organik dari Suoh,” kata Onni.

Upaya lain yang dilakukan pemerintah kabupaten adalah dengan menyediakan sarana prasarana, mengadakan pelatihan, dan memfasilitasi sertifikasi organik.

“Kendala yang dihadapi pemerintah daerah adalah terbatasnya anggaran sehingga masih kurang dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Sehingga selama ini masih mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah pusat,”kata Onni.

Onni berharap beras organik ini bisa menjadi ikon dan dipasarkan di luar Lampung.

“Jadi, ketika mendengar nama ‘Suoh’, hal yang teroikir adalah beras organiknya,” kata Onni. (*)

 

————————–
Annisa Diah Pertiwi, jurnalis Teknokra

Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung – Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di situs Teknokra.com.

Exit mobile version