by

Cerita Mantan Perambah di Pekon Teba Liokh, Keluar Hutan dan Jadi Peternak Lebah

LAMPUNG BARAT – Sarjono kini bisa menghela nafas lega. Dia tidak perlu lagi gundah memikirkan keluarganya jika ditinggal mencari nafkah.

Beberapa tahun lalu, Sarjono adalah perambah di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNNBS) di area yang masuk Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat.

Sepanjang ingatannya, Sarjono mengaku pernah hidup selama 25 tahun di dalam kawasan TNBBS tersebut.

Pada tahun 2016, Sarjono memilih keluar dari kawasan TNBBS dan tinggal di Pekon Teba Liokh. Ini dilakukan karena mulai sadar akan dampak tinggal di kawasan tersebut.

“Saya tertekan melihat keluarga saya. Anak saya yang kecil sekolahnya saya gendong dari atas turun ke desa, anak bujang tiap keluar saya nggak bisa tidur. Saya mikir, kalo gini terus kasian anak saya,” kata Sarjono, beberapa waktu lalu.

Kini, Sarjono memilih beternak lebah untuk mencari nafkah, walaupun ternak lebah yang ia jalani belum terlalu menghasilkan.

“Kita sebagai kelompok tani di sini ketergantungan dengan upah. Alhamdulillah, kita dikasih pelatihan dari pihak TNBBS dan YABI (Yayasan Badak Indonesia). Jadi punya peternakan lebah,” kata Sarjono.

Mulanya, Sarjono beternak lebah Avi Serana. Namun, karena kekurangan makanan, cuaca, dan tempat tinggal, lebah tersebut banyak yang kabur. Kini, ia memiliki puluhan kotak lebah Trigona.

“Lebah Serana itu menyengat, jadi agak takut kalo mau di ternak,” kata Sarjono.

Salah satu peternak lebah lainnya, Ali Imron memilih untuk berternak lebah madu Avi Serana. Awalnya ia hanya ikut warga yang tergabung dalam Kelompok Tahi Hutan (KTH) Sumber Rejeki. Lalu, ia mencoba mencari Lebah Avi Serena dan beternak di sekitar rumahnya.

Ia memberanikan diri beternak Lebah Avi Serana karena melihat peluang keuntungan yang lebih besar.

“(Lebah) Serana mudah di temukan, tapi banyak orang yang takut, jadi kita cepat dapatnya,” kata Ali.

Selama satu tahun ia beternak lebah, banyak jatuh bangun yang ia alami. Ia mengaku belum mengambil peruntungan dan fokus memperbanyak koloni Lebah Avi Serana.

“Saya bisa menambah wawasan untuk beternak madu. Saya dari nol, sering jatuh bangun, kabur-cari lagi, alhamdulillah ada yang menetap juga,” kata Ali.

Saat ini, Ali berencana membuat kotak super agar memperbanyak koloni Lebah Avi Serena dan lebah tidak mudah kabur. Sehingga, dapat menghasilkan madu yang bisa dipasarkan.

ALI Imron menunjukan pakaian khusus untuk beternak lebah Avi Serana. (Sri Ayu Indah Mawarni/Teknokra.com)

Beternak lebah tinggalkan merambah
Kepala Urusan Keuangan Pekon Teba Liokh, Suryadi mengatakan sudah tidak ada perambah dari pekon Teba Liokh yang masuk Kawasan TNBBS.

Menurut Suryadi, sebelumnya hanya ada tiga puluh kepala kelurga (KK) yang beternak lebah, sekarang sudah mencapai lebih dari lima puluh kepala keluarga yang mengikuti.

“Awalnya belum banyak masyarakat yang tertarik. Seiring banyaknya pelatihan-pelatihan yang diterima masyarakat, jadi banyak yang tertarik. Masyarakat menilai ternak madu sangat menjanjikan,” kata Suryadi.

Ia menuturkan mengambil Lebah Trigona dengan cara dicangkok dan diambil dari sarang-sarang di kayu mati yang ada di dalam hutan TNBBS.

Menurutnya, ternak madu cocok dikembangkan di Pekon Teba Liokh karena tidak merusak lingkungan. Selain itu, bisnis jual madu Lebah Trigona cukup menjanjikan.

Sementara itu, Kepala Seksi TN Wilayah III Krui, Maris Feriyadi mengatakan, untuk membantu agar para mantan perambah ini tidak lagi masuk kawasan hutan, pihaknya menggelontorkan sejumlah bantuan dan stimulan, salah satunya bantuan peternakan lebah bagi 30 orang anggota KTH Sumber Rejeki.

Jenis lebah madu yang diberikan ialah Avi Serana dan Trigona.

“Ini permintaan dari kelompok tani hutan binaan kita. Pertimbangan lainnya karena di Pekon Teba Liokh banyak potensi untuk pakan lebah sehingga harapan utk keberhasilan tinggi,” kata Feriyadi.

Bantuan yang diberikan berupa peralatan untuk budidaya lebah madu, seperti glodok 30 buah, stove 30 buah, baju Alat Pelindung Diri (APD) untuk memanen madu. Serta bingkai sarang 180 buah, mesin panen madu dan mesin circle.

Bantuan ini adalah program bantuan ekonomi produktif masyarakat penyangga TNBBS. Saat ini, masih terus diberikan pelatihan agar program ini bisa berhasil.

“Jika sudah produksi maka akan menambah penghasilan masyarakat. Jika berhasil diharapkan akan mengurangi ketergantungan masyarakt terhadap hutan, khususnya hutan kawasan TNBBS,” kata Feriyadi.

Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan bantuan yang telah diberikan dan mengembangkan usaha budidaya lebah madu. Sehingga dapat berproduksi dan dapat menambah penghasilan masyarakat.

 

Penguatan kelompok tani
Gelontoran bantuan itu sejalan dengan program mengurangi para perambah memasuki hutan. Dengan hubungan timbal balik yang positif, diharapkan mantan perambah ini ikut mengawasi areal di sekitarnya.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah mengungkapkan, selain mengadakan patroli di dalama kawasan, pihaknya juga melakukan penguatan kelembagaan kelompok tani yang telah berizin.

“Dengan begitu, petani ikut melakukan pengawasan terhadap perambahan areal sekitar wilayahnya,” kata Yanyan.

Kemudian, melalui program perhutanan sosial, Dinas Kehutanan melakukan pembinaan dan fasilitas unit-unit usaha. Hal ini agar masyarakat bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Sehingga, tidak menambah luas lahan garapannya.

Yanyan menghimbau kepada masyarakat sekitar kawasan hutan lindung untuk melestarikan bumi untuk generasi seterusnya.

“Hutan milik bersama, bukan hanya untuk kita geerasi sekarang. Tetapi, hutan juga milik generasi yang seterusnya. Menjaga hutan agar fungsinya lestari berarti mempersiapkan bumi yang tetap indah dan nyaman,” kata Yanyan.

LEBAH Trigona sedang memakan sari madu dari bunga. (Sri Ayu Indah Mawarni/Teknokra.com)

Ternak Lebah salah satu solusi usaha masyarakat kawasan
Di sisi lain, Ketua Program Studi Magister Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) Christine Wulandari mengatakan ternak lebah yang dilakukan di Pekon Teba Liokh bisa menjadi salah stau solusi masyarakat agar tidak kembali ke kawasan hutan.

“Semoga itu bisa menjadi jalan (agar tidak merambah). Tetapi kita harus sabar dan benar-benar diikuti perkembangannya. Misalnya, madu ini jangan dikasih saja. Lalu, tidak ada program lanjutan. Karena madu ini sebetulnya dihasilkan juga dari hutan lain,” kata Christine.

Menurut Ketua Yayasan Kehutanan Masyarakat Indonesia ini, pemberian bantuan ternak madu ini perlu program yang berlanjut. Produk madu ini harus memiliki ciri khas yang berbeda dengan produk madu lainnya.

Selain itu, pengemasan dan kuliatas harus bagus. Selanjutnya, pasar penjualan madu itu harus disediakan. Dengan begitu, program ternak madu ini tidak berhenti begitu saja.

“Kalau sudah memberikan bantuan seperti itu, jangan berhenti. Terus dikembangkan, sehingga masyarakat punya pendapatan yang berlanjut. Sehingga, bisa menggantikan hasil yang dia peroleh dari hutan,” kata Christine.

Christine menuturkan, tidak bisa seratus persen menyalahkan perambah merusak hutan. Sebab, ada kebutuhan manusia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Masyarakat tidak bisa hanya diminta turun dari hutan kawasan.

“Melainkan, dibutukan pendekatan secara masyarakat. Sehingga, ada program yang mendukung hal tersebut yaitu kemitraan konservasi,” kata Christine. (*)

—————-
Sri Ayu Indah Mawarni, jurnalis Teknokra.com
Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung – Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di situs Teknokra.com.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed