AJI Bandar Lampung

“New Normal” Wartawan di Tengah Pandemi: Memelipir Cari “Amplop”

PARA wartawan sedang menjalankan kerja-kerja jurnalistik. | dok. Andi Apriyadi

Alfanny Pratama | Jurnalis PRMN Metro Lampung | Koordinator Aliansi Pers Mahasiswa Lampung 2018-2019

SINAR mentari menembus jendela kamar indekos. Itu pertanda mesti bergegas menuju lokasi liputan. Saya sudah mengagendakan liputan ini.

Cek ponsel, baterai terisi penuh. Badan wangi dan berpakaian rapi. Seperti biasa, isi perut dahulu sebelum “tempur.” Beli nasi uduk dan gorengan, hanya Rp6.000. Saya bungkus dan makan di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. Setelah sarapan dan hujan reda barulah menuju lokasi liputan.

Hari itu, Rabu, 4 November 2020, saya meliput Festival Kopi di Hotel Sheraton. Penyelenggaranya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Festival tersebut dibuka oleh Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lampung Riana Sari Arinal. Turut hadir Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lampung Satria Alam dan jajaran pemerintah lainnya.

Selepas acara, para jurnalis mewancarai Riana dan Satria. Saat itulah kelihatan para pewarta yang meliput Festival Kopi 2020.

Sehabis wawancara, seseorang menepuk bahu saya. “Oi Fan,” katanya sembari tertawa. Ia teman saya, juga jurnalis.

“Kenapa lu di sini? Pindah pos liputan di pemprov juga tah?” tanya saya.

“Enggak, cuma sepi ado idak-nya (amplop). Ke sinilah memelipir, kan lumayan,” jawabnya.

“Tahu sendirilah, gara-gara Covid-19 beberapa pos kena imbas, seperti (pos liputan) pendidikan dan lainnya. Jadi, sepi begituannya (amplop). Yang ramai ya pos liputan politik dan pemerintahan.”

Baca juga: Bajingan! Adik Saya “Diracuni” Amplop

Syahdan, ia pergi bersama beberapa wartawan menghampiri seorang pria yang juga wartawan. Lelaki tambun itu terlihat membagi-bagikan amplop kepada mereka.

Saya melangkahkan kaki ke tempat parkir untuk mengetik berita. Sebab, sudah deadline. Pukul 10.00 WIB, harus ada berita yang masuk ke redaksi.

Ketika hendak menulis hasil liputan, tiba-tiba seorang wartawan lain menghampiri saya. Ia sudah berumur dan terbilang senior. “Fan, ado idak?” ia bertanya soal amplop.

Saya mengacungkan jempol ke arah para wartawan yang sedang berbagi amplop. “Makasih, Fan,” ucapnya.

Saya tidak tahu berapa rupiah isi amplop bagi jurnalis. Saya juga kurang paham siapa yang memberi. Cukup lewat kode, para wartawan yang diatur Kode Etik Jurnalistik tidak menerima suap itu sudah mengerti maksudnya, lalu menuju satu titik: “koordinator wartawan amplop.”

Baca juga: Lampung Fair dan “Jurnalisme Amplop”

Setelah mengirim berita, ada beberapa hal yang saya pikirkan saat itu. Pertama, pandemi Covid-19 ternyata menghilangkan sementara kebiasaan buruk membagikan amplop di berbagai desk liputan. Misal, pos pendidikan dan kriminial walau masih ada kemungkinan muncul kembali.

Kedua, muncul “new normal” di kalangan wartawan, yaitu memelipir ke pos-pos liputan yang diisukan tidak memengaruhi praktik amplop di tengah pandemi. Contohnya, desk liputan politik dan pemerintahan.

Selagi memikirkan itu dan bersiap menuju sekretariat AJI untuk minum, eh terdengar bunyi pesan baru WhatsApp. Isinya, “Fan, bagi ya beritanya. Foto yang beda.” Pesan itu dari si wartawan yang menerima amplop.

Nah, hal ketiga adalah pagebluk tak menghilangkan kebiasaan buruk lainnya di kalangan jurnalis, yakni kloning berita.

Baca juga: Memperbaiki Mutu Jurnalisme: Paradoks dan Omong Kosong?

Begitulah sepenggal kisah para wartawan. Belum tampak tanda-tanda citra profesi jurnalis akan lebih baik di mata publik. Tak lebih tukang peras walau ada ungkapan seperti ini: “Yang penting enggak minta, ini dikasih (amplop).”

Persoalan klise ini juga tanggung jawab perusahaan media. Pihak manajemen mesti menindak tegas reporternya yang menerima amplop. Selain itu, perusahaan harus memenuhi hak-hak wartawan. Boleh jadi, tindakan tak sesuai etik itu dibenarkan pemilik media. Jika demikian, runyam sudah.(*)

Exit mobile version