by

Kisah Pekerja Seks di Kala Pandemi: Cek Suhu Badan Hingga Minta Tamu Mandi

BANDAR LAMPUNG – Pandemi Covid-19 membuat sejumlah pekerja seks komersial ketar-ketir. Mereka pun berupaya beradaptasi dengan situasi agar “bisnis” tetap berjalan.

***

“Tok! Tok! Tok!”

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu kamar di mana Nola (27)-bukan nama sebenarnya-menginap.

Gadis berambut ikal sepinggul itu membuka sedikit pintu kamarnya. Mengintip dari celah pintu lalu menyodorkan termometer kepit digital.

“Taruh di ketek (ketiak) dahulu, Bang. Maaf ya,” kata Nola.

Sang tamu, lelaki bertubuh berisi itu menurutinya. Menyelipkan termometer di ketiak dan menunggu hingga terdengar suara “bip!”

“35 (celcius) nih. Aman kan?” tanya sang lelaki.

Nola mengangguk, membuka pintu dan mempersilakan tamunya masuk.

Sang tamu masuk dan hendak duduk di kursi santai samping tempat tidur. Namun tidak jadi.

“Eh, Bang. Mandi dahulu yah. Biar segar ‘mainnya’. Pakai sabun ya,” kata Nola mengingatkan agar sang tamu mandi terlebih dahulu.

Rutinitas itu diceritakan kembali Nola saat saya menemuinya di salah satu hotel bintang dua di bilangan Telukbetung, Kamis (30/12/2020) siang.

Rutinitas tersebut dengan patuh dijalani sejak pagebluk virus corona oleh perempuan kelahiran Way Kanan yang menjadi pekerja seks komersial berbasis daring itu.

“Ngeri juga sebenarnya sih, kan kita nggak tau tamu datang darimana. Ya, jaga-jaga sajalah,” kata Nola.

Nola termasuk melek informasi. Setiap hari dia membaca beberapa portal berita, khususnya media daring lokal Lampung.

Tak hanya itu, Nola pun sering mencari informasi dari bidan di mana dia rutin memeriksa kesehatan.

Dari bidan itu, Nola disarankan untuk tidak melakukan kontak yang melibatkan air liur (droplet), seperti berciuman bibir.

“Pokoknya tamu harus bersih, jadi saya suruh mandi dahulu,” kata Nola.

Namun, tidak setiap tamu bersedia mengikuti aturan Nola. Bahkan, ada yang menolak saat Nola meminta agar suhu tubuh diukur sampai enggan untuk mandi terlebih dahulu.

“Ya kalau dia nggak mau mandi, ya cuci dahululah, setidaknya enggak demam. Tapi, saya tetap enggak mau kalau cipokan,” kata Nola.

Sementara itu, Dini (34)-bukan nama sebenarnya-pekerja seks lainnya mengaku lebih longgar jika menerima tamu.

Meski tidak meminta tamunya untuk mandi terlebih dahulu, Dini selalu menyiapkan hand sanitizer dan sabun mandi cair di tasnya.

“Kan nggak selalu dapat tamu yang di hotel, kalau yang di losmen biasanya nggak ada (hand sanitizer),” kata warga Bandar Lampung ini.

Dini pun selalu membawa masker sekali pakai lebih dari satu helai. Masker ini kadang dia berikan saat tamu menjemputnya.

“Saya stok satu kotak, kalau pakai masker kain kadang kotor kena debu,” kata Dini.

Dini mengaku sebisa mungkin membatasi tamu dalam satu hari. Maksimal, perempuan berambut lurus sepunggung ini menerima tamu sebanyak tiga orang.

“Saya punya anak, satu, masih kecil. Kalau saya kena (covid-19) yang nyari uang siapa?” kata Dini.(*)

(Tri Purna Jaya, jurnalis Kompas.com, anggota AJI Bandar Lampung)

DISCLAIMER:
Artikel ini sejatinya dibuat sebagai pemberitaan di salah satu media daring nasional. Namun, dengan berbagai pertimbangan, konten dan muatan artikel ini dipilih untuk tidak ditayangkan. Pemuatan di situs ini, sejumlah penulisan disesuaikan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed