by

Rokok Elektrik: Digandrungi Remaja-Minim Sosialisasi Bahaya

LAMPUNG TIMUR – Alat sebesar tiga jari itu digenggam erat oleh Ari. Bentuknya seperti macis. Sesekali, ia menyedot bagian ujung benda berwarna hitam itu. Kepulan asap pun keluar dari lubang hidungnya. Bau khas gandum dengan aroma susu menguar dalam ruangan. Ari adalah salah satu dari sekian banyak penikmat vape alias rokok elektrik.

“Ini lebih irit dibanding rokok tembakau. Baunya pun segar, tidak seperti rokok konvensional,” kata Ari, Selasa, 26/1/2021.

Lelaki muda berambut ikal itu memakai rokok elektrik sekitar tiga bulan terakhir. Tadinya, ia perokok konvensional. Dalam sebulan, pengeluaran Ari untuk belanja rokok konvensional bisa mencapai Rp1,5 juta.

Sementara, pengeluaran untuk rokok elektrik jauh lebih irit, yakni Rp350 ribu per bulan. Ia yakin bahwa vape lebih sehat ketimbang rokok konvensional.

“Yang saya isap bukan pembakaran tembakau, tetapi uap yang dihasilkan dari elemen panas di dalam vape,” ujarnya seraya memperlihatkan rokok elektrik.

Ari tak sulit memperoleh vape. Dahulu, ia bisa mendapatkannya lewat situs belanja online. Kini, beberapa toko di kawasan Lampung Timur menyediakan vape.

“Gampang sekali mencarinya, Mas. Tinggal pilih jenis aroma, mulai dari buah-buahan hingga yang lain. Lengkap!” ucap Ari.

Lain hal dengan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung Timur dr Nilawati Tanjung. Ia justru meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menerbitkan regulasi ihwal rokok elektrik dan rokok tembakau. Sebab, keduanya mengandung nikotin dan bisa membuat orang kecanduan. Dengan kata lain, rokok elektrik dan rokok tembakau dapat berdampak buruk pada organ tubuh, terutama paru-paru.

“Berdasar pengamatan kami, rokok elektrik lebih digemari para remaja. Ini yang perlu waspada dan secepatnya pemerintah peka soal vape,” kata Nilawati.

Menurutnya, nikotin yang terkandung dalam vape dan rokok konvensional merupakan salah satu zat adiktif. Artinya, keduanya sangat buruk untuk kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Kami tegaskan bahwa keduanya buruk untuk kesehatan,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan Baladenta Amalia, Doktor Reseacher in Publik Health Universitas de Barcelona. Ia mengatakan, belum ada penelitian yang memastikan apakah lebih berbahaya vape atau rokok konvensional. Namun, vape mengandung potensi lebih bahaya.

“Sejauh ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik memiliki potensi sama berbahayanya, atau bahkan lebih berbahaya dibandingkan rokok biasa. Hal ini karena variasi dari rokok elektrik dan kandungannya beraneka ragam. Sehingga, cukup berbeda ketimbang rokok tembakau,” ucap Amalia.

Bagaimana dengan kandungan nikotin rokok elektrik? Amalia bilang jumlahnya banyak dan itu tergantung dari merek e-liquid (cairan) jenis vape. Secara umum, kandungan bahan dalam aerosol (uap) rokok elektrik, antara lain fine dan ultrafine particulate matter Nicotine, volatile organic compounds (VOCs), polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), formaldehyde, Acetaldehyde, Acrolein dan Metals.

“Untuk e-liquid-nya sendiri, yang umum adalah zat perasa, nikotin, vegetable glycerin, dan propylene glycol sebagai zat pembawanya. Semua itu cukup bahaya untuk kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Sartono dari Dinkes Lampung Timur menyebut bahwa pihaknya sering mensosialisasikan bahaya rokok. Namun, sejauh ini, yang lebih sering disosialisasikan adalah rokok tembakau.

“Kami sering lakukan sosialisasi bahaya rokok. Kalau soal (bahaya) rokok elektrik, kami belum gencar sosialisasi,” kata Sartono.

Pada 2020, Dinas Kesehatan Lampung Timur melalui 34 puskesmas menggelar survei ihwal perokok. Hasilnya, dari 69.668 responden, yang aktif perokok sebanyak 15.449 atau 22,18%.(*)

Laporan Agus Susanto, jurnalis Kupas Tuntas

Catatan: Pemuatan liputan ini berdasar persetujuan si jurnalis. Artikel mengalami penyuntingan seperlunya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed