by

Jurnalisme Independen: Belajar dari Kematian The Correspondent

Hendry Sihaloho | Jurnalis Lepas

SEJAK 1 Januari 2021, The Correspondent berhenti beroperasi. Ia tak lagi menerbitkan produk jurnalistik. Sayang, platform online untuk berita tak terputus yang bebas iklan itu berumur pendek.

Kemunduran keuangan menjadi salah satu penyebabnya. Pandemi Covid-19 juga turut memicu kematian The Correspondent.

With the Covid-19 pandemic dominating headlines non-stop for much of the year, it proved very difficult to offer “unbreaking news” to members in over 140 countries. People want to know from their media source: “Is my kid’s school going to be closed tomorrow and when will I be eligible for a vaccination?” While essential, this is not the kind of journalism we were set up to do. We were focused instead on transnational issues,” tulis The Correspondent.

The Correspondent adalah saudara kembar De Correspondent, situs berita di Belanda. Sederhananya, The Correspondent merupakan ruang berita berbahasa Inggris. Diluncurkan pada 30 September 2019, The Correspondent didanai lebih dari 50.000 anggota pendiri dari 130 negara di seluruh dunia. Artinya, usia The Correspondent terbilang singkat, yakni 15 bulan.

Berbeda dengan saudara kembarnya, De Correspondent masih beroperasi hingga kini. Mengudara sejak 2013, De Correspondent memiliki lebih dari 70.000 anggota. Ketika ditawarkan ke publik, De Correspondent berhasil mengumpulkan $1,7 juta di negara yang hanya berpenduduk 17 juta orang. Ia disebut salah satu platform jurnalisme yang didanai anggota terbesar dan paling cepat berkembang di Eropa.

Kelahiran De Correspondent berangkat dari keresahan akan konsep dan definisi berita. Kegelisahan mereka, misalnya, kebanyakan media terobsesi dengan apa yang terbaru (aktual). Hampir semua yang menjadi berita pasti sesuatu yang baru saja terjadi. Tetapi, hal paling baru menurut definisi bukanlah yang paling berpengaruh.

Segala sesuatu di dunia ini memiliki sejarah. Sejarah itu sebagian besar menentukan mengapa sesuatu terjadi. Karena berita biasanya terus fokus pada hari ini, hal itu membutakan kita dari jangka panjang, baik masa lalu maupun masa depan. Memberi informasi kepada kita tentang struktur kekuasaan yang tumbuh dari waktu ke waktu, seperti akar sejarah rasisme. Atau mengingatkan kita akan perubahan masyarakat secara bertahap, seperti finansialisasi ekonomi. Itu tidaklah wajar bagi bentuk dan ritme berita harian.

“Singkatnya, obsesi berita kami menghilangkan apa yang seharusnya menjadi praktik jurnalisme: Membantu publik memahami dunia dengan cukup baik untuk bergabung dalam diskusi tentang apa yang harus dilakukan,” kata Rob Wijnberg, pendiri De Correspondent.

Dalam konteks jurnalisme, kematian The Correspondent layak diperbincangkan-meski usianya seumur jagung. Pertama, ia adalah ikhtiar menghadirkan jurnalisme independen. Hidup tanpa iklan, operasional The Correspondent ditopang donasi publik dengan sistem keanggotaan. Kedua, menjalankan prinsip-prinsip yang berkomitmen pada jurnalisme kolaboratif, inklusif, dan konstruktif. Ketiga, menaruh loyalitas kepada publik.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Sependek pengetahuan saya, belum ada media arus utama yang benar-benar hidup tanpa iklan. Kebanyakan masih mengandalkan advertensi, terlebih media lokal yang relatif bergantung dengan iklan pemerintah. Sedikit banyak hal ini dapat memengaruhi independensi media.

Meski begitu, upaya beberapa media yang mencoba menggalang donasi publik dengan model crowdfunding patut diapresiasi. Semangatnya adalah menjaga independensi. Juga melibatkan publik untuk bersama-sama menentukan agenda.

Tempo, misalnya, meluncurkan program Bongkar. Teknisnya, Tempo berkolaborasi dengan change.org dan kitabisa.com. Redaksi Tempo akan mengajukan tiga isu untuk diinvestigasi lebih lanjut. Lalu, publik memilih salah satu dari tiga isu tersebut melalui voting online selama satu bulan. Isu yang mendapat suara terbanyak akan masuk ke tahap selanjutnya, yakni pendanaan kolektif alias crowdfunding.

Hingga kini, baru dua topik liputan yang diangkat Tempo. Pertama, liputan ihwal Aset Pemda DKI Jakarta Hilang. Karya jurnalistik ini mengurai kejanggalan-kejanggalan di balik laporan audit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemda DKI Jakarta. Kedua, topik seputar jaringan aborsi online pada 2019. Topik tersebut meraih dukungan 6.540 orang lewat mekanisme polling sejak Agustus 2018.

“Warganet yang berkenan menyisihkan donasi dipersilakan mengunjungi situs kitabisa.com. Dukungan pendanaan ini merupakan sebuah obligasi yang harus kami bayar dengan menyajikan liputan berkualitas. Mari dukung keberlanjutan program ini,” tulis Tempo.

Media lain yang menerapkan crowdfunding, yakni Asumsi lewat https://yourmedia.asumsi.co/. YourMedia adalah fitur khusus yang dibuat oleh Asumsi untuk crowd donation artikel berita Asumsi yang dianggap berdampak dan menggerakkan keterlibatan masyarakat.

“Media seharusnya bekerja untuk publik, bukan klik. Jadikan #AsumsiPunyaLo dan daftar sekarang untuk ambil bagian dalam perubahan,” demikian tagline yourmedia.asumsi.co.

Selain crowdfunding, terdapat pula media, baik lokal maupun nasional, mengaplikasikan konsep paywall (berlangganan)-disamping menerima iklan. Strategi model ini adalah mengutamakan pelanggan dan berinvestasi pada jurnalisme berkualitas. Pertanyaannya, benarkah karya jurnalistik yang disajikan bermutu?

Ada pandangan pro dan kontra ihwal konsep paywall. Mereka yang pro memandang bahwa publik perlu berkontribusi untuk jurnalisme berkualitas. Sedangkan yang kontra berpandangan bahwa jurnalisme mengabdi pada kepentingan publik, sehingga publik tidak perlu membayar berita.

Terlepas dari itu semua, model crowdfunding dan paywall yang dipraktikkan media di Indonesia, di mana dengan tetap menerima iklan, memperlihatkan bahwa media masih menjaga kelangsungan bisnis. Artinya, konsep crowdfunding dan paywall itu untuk menopang bisnis. Tujuan akhirnya adalah mengakumulasi laba.

De Correspondent memang didanai para anggotanya. Tetapi, konsep ini tidak sama dengan model paywall. Umumnya, konsep paywall menerapkan sistem limit, di mana pembaca memperoleh artikel secara cuma-cuma. Setelah itu, mereka tidak dapat mengakses artikel, kecuali berlangganan.

Berbeda dengan sistem keanggotaan yang dipraktikkan De Correspondent. Tautan apapun ke De Correspondent yang ditemukan pembaca Belanda dapat mereka akses secara gratis tanpa batas. Jadi, anggota menyubsidi produk jurnalisme yang menyebar di luar komunitas pendukung kepada publik yang lebih luas.

Promosi paling efektif untuk menjadi anggota adalah pesan yang muncul di bagian atas setiap artikel. Isinya, misal, “Artikel ini didonasikan oleh anggota X.”

Model Koperasi

Selain crowdfunding, sepertinya perlu mempertimbangkan model koperasi untuk pendanaan media. Cara ini diterapkan The Devil Strip, organisasi berita yang dimiliki dan dioperasikan rakyat Akron, Ohio.

“Kami adalah koperasi berita lokal pertama milik pembaca di Amerika!” begitu tertulis di situs Devil.

Di The Devil Strip, pembaca dapat menjadi pemegang saham hanya dengan $1 per bulan. Setelah Anda menginvestasikan $330, saham Anda sepenuhnya menjadi milik Anda dan Anda adalah pemegang saham seumur hidup. Pemegang saham akan bertemu setiap tahun untuk memberikan suara pada anggota dewan baru, anggaran yang luas, dan pertanyaan pemrograman serta untuk memilih proyek editorial.

Model serupa dipraktikkan The Brick House Cooperative. Ia adalah koperasi media baru yang dimiliki secara kolektif yang terdiri dari sembilan web. Dijalankan secara independen, laporan jurnalistik mereka tersebar di seluruh dunia.

Tanpa iklan, The Brick House Cooperative hidup dengan cara berlangganan. Pembaca cukup merogoh $75 untuk berlangganan satu tahun.

Pun demikian dengan Mendocino Voice. Media ini mengaplikasikan sistem koperasi dan ingin menjadi “koperasi milik pekerja.” Mendocino melihat koperasi sebagai struktur yang paling efektif untuk memberikan berita umum kepada penduduk perdesaan, melakukannya dengan akuntabilitas, akses, dan akurasi yang lebih besar.

“Sebuah koperasi akan memberikan setiap anggota, apakah seorang pekerja atau pembaca, bagian di koran, dan suara. Itu akan menyimpan uang dan kekuasaan dalam komunitas dan memastikan kontrol demokratis, kontrol oleh rakyat daripada oleh siapa pun yang memiliki kantong paling dalam,” tulis Mendocino Voice.

Bandingkan dengan kita. Alih-alih berinovasi dalam model dan langgam pendanaan, tak sedikit media di republik ini menempuh ‘jalan pintas’ agar tetap eksis. Jalan pintas dimaksud, yaitu mengedepankan konten-konten sensasional dan clickbait. Simpelnya, bagaimana berita menjadi viral. Tujuannya jelas: memupuk kapital lewat page views! Semangatnya bukan berangkat dari menjawab rasa ingin tahu publik. Praktik jurnalisme kuning itu bukan hanya mempertaruhkan reputasi, tapi juga dapat menggerus kepercayaan publik terhadap media.

Coba simak pemberitaan kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air. Lihat bagaimana media mengemas peristiwa nahas tersebut dengan pertanyaan, “Bagaimana perasaan Anda?” atau “Apakah Anda punya firasat?” Bahkan, terdapat media yang membingkai peristiwa kecelakaan dengan kehidupan sang pilot dan pramugara, upah pilot, dan ramalan.

Apakah berita-berita seperti itu yang disebut karya jurnalistik bermutu? Sila Anda nilai sendiri.

Bila dikaji lebih jauh, konten-konten sensasional seperti pemberitaan kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air, apakah karena persoalan jurnalisnya? Atau semua ini adalah bagian dari sistem, di mana wartawan dituntut memproduksi berita sebanyak mungkin yang muaranya adalah memupuk modal perusahaan media? Atau karena institusi media lebih condong memakai logika bisnis dalam melihat sebuah isu/peristiwa, bukan kepentingan publik?

Bila memang media lebih memilih pendekatan secara bisnis, maka sepertinya berat mewujudkan jurnalisme berkualitas. Jika produk jurnalistik tak bermutu, maka sulit mempraktikkan konsep pendanaan kolektif bagi media. Artinya, perlu ‘kerja ekstra keras’ dalam mewujudkan jurnalisme independen.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed