by

Malam Ini, AJI-Bestari Gelar Diskusi Virus Corona-Perdagangan Satwa Liar

-Agenda-176 views

SIARAN PERS

POSTER diskusi publik soal virus Corona dan Perdagangan Satwa Liar | AJI Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung bersama Program Bestari akan menggelar diskusi publik ihwal virus Corona (Covid-19) dan perdagangan satwa liar. Berdasar agenda, diskusi bertempat di Embun Coffee, Jalan Jenderal Sudirman, Pahoman, Bandar Lampung, Sabtu, 29 Februari 2020, pukul 19.00 WIB.

Menurut Nature (7/2), virus Corona awalnya diduga merupakan penyebaran penyakit yang berasal dari satwa (zoonosis) kelelawar dan ular. Namun, hasil penelitian Shen Yongyi dan Xiao Lihua, peneliti asal South China Agricultural University, Guangzhou, menemukan bahwa 99% material genetik virus Corona pada manusia yang terinfeksi memiliki kesamaan dengan trenggiling.

Peneliti mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono kepada CNN Indonesia (11/2) juga membenarkan bahwa trenggiling terindikasi kuat sebagai perantara virus Corona yang pertama kali merebak di Kota Wuhan, Hubei, China. Tak hanya menjadi perantara, bahkan trenggiling diidentifikasi memiliki virus Corona sendiri dan virus sendai. Fakta menunjukkan bahwa trenggiling merupakan salah satu spesies incaran dalam pasar gelap dunia dengan angka perdagangan yang tinggi.

Dilansir dari CCN Indonesia (20/2), analis Wildlife Conservation Society (WCS) Yunita Setyorini mengatakan, hasil penelitian menyebut bahwa 26 ribu trenggiling di Indonesia diperjualbelikan secara ilegal dalam kurun sepuluh tahun. Mayoritas trenggiling dijual ilegal ke China. Warga China memercayai sisik trenggiling bisa menyembuhkan penyakit seperti asma dan menambah vitalitas meski belum terbukti secara ilmiah. Kepercayaan ini meningkatkan angka konsumsi trenggiling.

Berdasar Kajian Global Financial Integrity pada 2011, perdagangan tumbuhan dan satwa liar ilegal secara global menepati urutan keempat sebagai kejahatan terorganisasi lintas negara setelah perdagangan narkotika, manusia, dan barang palsu. Indonesia, merujuk data Perkumpulan SKALA melalui kemitraan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2016 menyebutkan bahwa kerugian negara akibat perdagangan tumbuhan dan satwa liar illegal yang dilindungi mencapai lebih dari Rp9 triliun per tahun.

“Pelestarian lingkungan, terutama isu hutan dan satwa liar menghadapi berbagai tantangan yang rumit. Sebab, penyelesaiannya membutuhkan pemahaman dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dengan dukungan berbagai pihak. Diskusi berkala yang digelar oleh AJI-Bestari diharapkan dapat membantu jurnalis untuk memahami masalah tersebut,” kata koordinator Program Bestari David Purmiasa, Kamis, 27/2/2020.

Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho menambahkan, diskusi tersebut guna meningkatkan pengetahuan para jurnalis. Sebab, mereka yang berkecimpung di dunia jurnalistik dituntut memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Sehingga, liputan yang disajikan berdampak secara positif di masyarakat.

“Ke depan, AJI-Bestari akan mengadakan diskusi secara berkala. Topiknya, isu-isu seputar lingkungan. Penentuan topik diskusi tak hanya oleh AJI-Bestari, tapi juga meminta pandangan para jurnalis. Jadi, teman-teman jurnalis bisa menentukan topik apa yang hendak didiskusikan,” ujarnya.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed