by

Istanto

-Pendapat-142 views
Ilustrasi | Media Indonesia

 

Juwendra Asdiansyah | Jurnalis Senior | Pemred duajurai.co

PETANG kemarin, Kamis, 5/3/2020, menunggu magrib saya membuka komputer. Niatnya mengumpulkan bahan dan mulai mencicil membuat makalah untuk dipresentasikan dalam dua kelas jurnalistik yang bakal saya ampu pada Sabtu ini dan Selasa pekan depan.

Tapi, sebenarnya pikiran bercabang antara menulis makalah dengan membuat (tulisan) status Facebook (FB). Sejak siang saya memang sudah tergelitik, memikirkan, dan mulai mengetik beberapa paragraf soal jurnalisme untuk di-post-ing di FB. Idenya dari salah satu peristiwa yang sedang aktual di Lampung.

Saat membuka-buka file di komputer, malah bersobok dengan sebuah tulisan lama, juga soal jurnalisme. Filenya berjudul “Jurnalisme Hari ini”. Ini tulisan pendek bergaya sajak yang belum selesai.

Sejatinya tulisan tersebut merupakan komentar saya dalam sebuah percakapan di grup WhatsApp (WAG) Pembaca duajurai.co pada awal 2019, setahun silam. Di komputer tercatat tanggal 29 Januari 2019.

Saya memang biasa menyimpan di komputer komentar dalam percakapan WAG atau FB yang cukup panjang dan saya rasa cukup bagus. Selain khawatir terhapus, kapan-kapan bisa jadi bahan baku untuk dikembangkan menjadi tulisan yang lebih paripurna.

Nah, saat bertemu tulisan lawas ini, saya justru tergoda untuk menyentuhya lebih dahulu. Bahan tulisan untuk status sebelumnya, dus rencana menulis makalah pun terpaksa dikalahkan.

Baru kotak-katik sebentar, tiba waktu magrib. Komputer dimatikan. Lepas magrib, makan malam, lalu bersiap menunggu lima aktivis surat kabar mahasiswa Teknokra Unila yang mau berkunjung ke rumah.

Irul dkk, para aktivis muda itu, tiba pukul 19.30 dan pulang sekira tiga jam kemudian.

Komputer kembali saya hidupkan, meneruskan ngoprek tulisan yang mandek magrib tadi. Saya tambahkan beberapa kalimat-paragraf. Ganti beberapa kata, juga rapikan huruf dan tanda baca.

Susunan paragraf saya ubah agar lebih terpola. Agak “lama” memikirkan bagian-bagian mana yang pantas jadi lead dan mana yang cocok jadi ends.

Tak lupa saya kasih “byline” oleh Juwendra Asdiansyah. Ini sebagai antisipasi agar status ini tidak mudah dicaplok orang lalu didaku sebagai tulisannya—praktik norak yang lazim terjadi di media sosial.

Sekitar 15 menit beres. Langsung post-ing di Facebook (pukul 22.47), dan Instagram. Saya share juga di dua WAG yang saya ikuti.

Awalnya berjudul Jurnalisme Hari ini, dua kali revisi berubah menjadi Jurnalisme Masa Kini, lalu Jurnalis Masa Kini. Isinya merupakan otokritik, refleksi, muhasabah atas perilaku tak elok sebagian jurnalis(me) saat ini.

Salah satu yang saya soroti adalah praktik plagiarisme dan copy-paste berita. Liputan/tulisan/berita wartawan lain didaku sebagai liputan/tulisan/berita sendiri.

Hingga kemudian pada siang tadi, pulang Jumatan saya membuka ponsel. Seorang sahabat mengirim pesan WA seraya meneruskan (forward) sebuah tulisan.

Tulisan itu sama persis plek plek dengan tulisan saya “Jurnalis Masa Kini”, tapi dengan judul lain “REVOLUSI MENTAL JURNALIS SAAT INI” dan tertulis di bawahnya “Oleh ISTANTO SH”.

Sahabat saya ini mendapati “kembaran” tulisan saya di sebuah grup WA yang dia ikuti, dibagikan oleh seorang wartawan, tapi bukan si Istanto SH.

Ngenyut, tentu saja. Lebih ngenyut, sahabat ini dalam japri-nya bertanya, “Manalah yang benar?”Lalu, “Ini murni tulisan Abang apa Istanto?”

Hehehee…dunia…dunia…Ini semacam ironi, satire yang sedikit perih, tapi lebih banyak lucunya.

Sedang ngomongin plagiarisme malah tulisan sendiri jadi korban. Kontan, gak pake lama.

Ngilu. Sudah pasti. Gue jadi tersangka plagiat tulisan gue sendiri..!

Belum berhenti di situ. Tak lama, di sebuah WAG, seorang sahabat membagikan sebuah tulisan saya yang lain berjudul JURNALIS “GOLPUT”? yang juga dicaplok dan didaku oleh (lagi-lagi) Istanto.

Saya tidak kenal Istanto ini. Entah siapa dia. Kalau Sumanto pemakan daging manusia saya tahu. Tapi, Istanto pemakan tulisan manusia saya ora weruh.

Yo wess lah. Keep santuy. Pada hari Jumat penuh barokah ini saya doakan Istanto, siapa pun dia, juga Istanto-Istanto lainnya di muka bumi, agar mendapat hidayah, sehat-sehat, semakin bahagia, berlimpah karunia Allah SWT. Amin.

Jangan lupa ngopi, biar akal tetap waras, hati tetap adem…

Baydewey…ini tulisan bakal didaku juga nggak sama Istanto ya. Kalau iya, nanti judulnya jadi “ISTANTO oleh ISTANTO SH”.(*)

Baca tulisan Juwendra lainnya: Sebuah Refleksi: Jurnalisme Hari Ini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed