by

Narasumber

-Pendapat-139 views
Ilustrasi | BBC

 

Juwendra Asdiansyah | Jurnalis Senior

BUKAN salah narasumber. Tapi, salah memilih narasumber.

Tidak semua orang bisa menjadi narasumber. Ada sejumlah syarat ketat dalam memilih narasumber. Di antaranya seperti dipandu dalam teori Lingkaran Konsentris ala David Protess.

Narasumber harus orang yang terlibat (pelaku) langsung, atau orang yg mengetahui langsung peristiwa. Ia melihat sendiri dengan mata kepalanya, mendengar sendiri dengan telinganya. Bukan kata si anu, bukan katanya katanya.

Jika untuk diminta pendapatnya/perspektifnya, ia harus orang yang kompeten. Punya kapasitas mumpuni di bidang yang ditanyakan. Jika lain kompetensi, beda kapasitas, seberapapun pintarnya, tidak bisa didapuk menjadi narasumber.

Peternak sapi yang sukses, tidak bisa ditanya soal wabah penyakit yang melanda peternakan ikan air tawar. Ahli komputer jebolan MIT sekalipun, tidak layak diminta sarannya tentang bagaimana membuat donat kentang supaya empuk.

Dalam jurnalisme berlaku hukum “tanyakan kepada ahlinya”. Tidak berlaku ujaran, jangan lihat siapa yang bilang, tapi apa yang dibilang.

Kovach dan Rosenstiel dalam The Elements of Journalism menegaskan, tujuan jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin warga bisa menjadikan informasi di media sebagai rujukan (untuk mengatur hidupnya), jika informasi tersebut keluar dari sembarang narasumber, atau narasumber sembarangan.

Memilih narasumber dengan ketat adalah ikhtiar sungguh-sungguh untuk memastikan informasi menjadi terpercaya. Sehingga, berguna bagi pembaca, warga, masyarakat.

Jadi…

Bukan salah narasumber tak nyambung

Salah kamyuuu nyumput dalam tempurung.(*)

Tulisan menarik Juwendra lainnya: Istanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed