by

Intel, Corona, dan Sukisno

INTEL TNI mengambil gambar kaus yang dikenakan Sukisno di kompleks PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Rabu petang, 18 Maret 2020. | dok. Sukisno

Hendry Sihaloho | Ketua AJI Bandar Lampung

SAYA sedang menonton film “Just Mercy” ketika Sukisno menelepon pada Rabu, 18 Maret 2020, sekitar pukul 22.30 WIB. Ia mengabarkan bahwa sejumlah intel TNI mencari dirinya. Bahkan, para intel itu telah berada di rumah orang tua Sukisno.

“Saya lagi di masjid. Pamong desa yang memberitahu bahwa saya dicari intel. Mereka sudah di rumah,” kata Sukisno dalam percakapan via telepon.

Pada Rabu petang, Kisno-sapaan Sukisno memberitahu bahwa dirinya berurusan dengan seorang intel ketika hunting foto di kompleks Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung. Pasalnya adalah gambar kaus yang dikenakan Kisno. Bagi sang intel, gambar tersebut menyerupai simbol organisasi terlarang.

Tentara itu pun mendata Kisno. Ia meminta tanda pengenal dan mengambil foto Kisno lengkap dengan kausnya. Setelah itu, Kisno dipersilakan pergi. Namun, ia mengingatkan Kisno bahwa pihaknya akan menyita kaus tersebut sebagai barang bukti.

“Sebelum saya pergi, kata intel itu, nanti mau ditindaklanjuti. Lagi nunggu kabar dari Korem,” ujar Kisno.

Saya tak sangka persoalan sepele itu benar-benar ditindaklanjuti. Malam hari, beberapa intel mendatangi kediaman Kisno. Warga setempat pun heboh. Mereka seakan bertanya mengapa aparat mencari seorang jurnalis menjelang tengah malam.

Bagi saya, ini terkesan berlebihan. Hanya karena kaus urusan menjadi panjang. Seolah-olah perkara kaus itu jauh lebih penting ketimbang pandemi Covid-19 yang telah merenggut banyak nyawa. Bahkan, perwira dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) Mabes TNI sampai turun.

Padahal, republik ini tengah berperang melawan pagebluk yang belum tahu kapan berakhir. Saat mereka mencari Kisno, jumlah warga yang meninggal karena virus Corona mencapai 19 orang. Kini, sebanyak 399 orang yang meninggal.

Kaus yang dipakai Kisno bukan ancaman. Jauh lebih mengancam adalah Covid-19. Ia tepat di depan kita. Bahkan, sangat dekat. Tak hanya menghantam sektor ekonomi, sampar itu juga berdampak luas terhadap kehidupan sosial. Seyogianya, persoalan yang mendesak ini menjadi perhatian serius setiap elemen, termasuk TNI.

Lagian, Kisno bukan satu-satunya orang yang memiliki kaus tersebut. Sejumlah jurnalis dan kalangan lain juga punya. Bahkan, tak sedikit dari mereka memakai kaus itu di ruang-ruang publik.

Kaus ini salah satu dari tiga kaus produksi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandar Lampung. Sengaja dijual sebagai bentuk penggalangan dana untuk Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 AJI. Bahkan, AJI Bandar Lampung menjual kaus tersebut secara terbuka pada Festival Media AJI di Jambi, 16-17 November 2019.

Adapun kaus yang dipersoalkan itu bergambar pena dan kamera. Kemudian, terdapat tulisan “I Am Journalist.” Pesannya adalah saya seorang jurnalis. Itulah mengapa gambarnya pena dan kamera yang melambangkan alat kerja jurnalis.

Ketika Kisno mengabari dirinya berurusan dengan intel, saya sontak teringat sejumlah kisahnya. Beberapa waktu lalu, ayah satu anak itu dicari camat, babinsa, dan pamong desa karena memberitakan “kesewenang-wenangan” kepala desa (kades) yang baru terpilih. Begitu menjabat, sang kades memecat sejumlah aparatur desa dan menggantinya dengan tim sukses sewaktu pilkades.

Pemberitaan itu berdampak. Kades membatalkan pemecatan dan meminta maaf. Tapi, gara-gara ini, Mas Kisno sempat “disidang” di balai desa hanya karena menjalankan perannya sebagai watchdog (anjing penjaga) demokrasi.

Di lain waktu, Kisno dicari karena pemberitaan jalan rusak di tempat tinggalnya. Orang-orang di lingkar kekuasaan, bahkan istri bupati, memintanya untuk berhenti memberitakan jalan rusak.

“Saya bilang, ibu, saya cuma menyuarakan masyarakat di dua desa. Mereka menyampaikan keluhan kepada saya, kok jalan tak kunjung diaspal,” ucap Kisno menjawab sang istri bupati.

Kisno pun melanjutkan aktivitas jurnalistik. Ia memberitakan hingga dilakukan pengaspalan. Ternyata, jalan kembali rusak setelah diaspal. Kisno meneruskan pemberitaan hingga pemerintah mengaspal ulang. Perbaikan ulang ini mendapat apresiasi dari masyarakat setempat.

Sepak terjang Kisno membuatnya diterpa kabar miring. Pria yang sehari-hari meliput dengan Honda Legenda itu dirumorkan menerima Toyota Avanza. Kisno pun menjelaskan bahwa dirinya anggota AJI, dan diharamkan menerima imbalan. Jangankan Avanza, sekadar amplop saja tak boleh.

Para intel pulang dari kediaman Kisno hampir pukul 23.30 WIB. Saya pun kembali melanjutkan menonton “Just Mercy.” Film berdasar kisah nyata ini bercerita tentang pengacara muda bernama Bryan Stevenson (Michael B Jordan). Setelah lulus dari Harvard, Stevenson memutuskan pergi ke Alabama untuk membela mereka yang tidak mendapatkan perwakilan yang layak.

Salah satu kasus yang paling sulit ketika dirinya membela Walter McMillian (Jamie Foxx). Tukang kayu itu dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan seorang gadis berusia 18 tahun. Banyak bukti bahwa McMillian tidak bersalah. Pada tahun-tahun berikutnya, Stevenson yang juga pendiri The Equal Justice Initiative terlibat dalam labirin manuver hukum, politik, dan rasisme.

Saya tak tahu apakah persoalan kaus itu bakal berlanjut atau tidak. Saya juga tidak tahu apakah dicari/diintai intel karena menulis memoar ini. Bak kisah Stevenson, meniti kebenaran penuh liku dan terjal.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed