by

Koalisi: Bebaskan Ravio Patra-Hentikan Meretas Gawai Masyarakat yang Kritis

Ravio Patra | ist

BANDAR LAMPUNG – Sejumlah elemen yang tergabung dalam Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus meminta aparat segera membebaskan Ravio Patra. Peneliti kebijakan publik dan pegiat advokasi legislasi itu ditangkap, Rabu malam, 22 April 2020.

Berdasar rilis yang diterima pada Kamis, 23/4/2020, sebelum ditangkap, Ravio melalui akun Twitter-nya @raviopatra, sempat mengkritik Staf Khusus Presiden Billy Mambrasar yang diduga kuat terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintah di Papua. Dia juga menuliskan kritiknya tentang penanganan Covid-19 di Tirto.co.id. Kritik tersebut berkaitan dengan apa yang selama ini dikerjakan Ravio, yaitu mendorong Indonesia untuk lebih transparan dan terbuka. Terutama, karena tiga tahun terakhir Ravio aktif sebagai wakil Indonesia dalam Steering Committee Open Government Partnership (SC OGP).

Hingga saat ini, belum diketahui kesatuan mana yang membekuk Ravio. Juga kemana mereka membawa Ravio. Tim Pendamping Hukum dari Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus sedang mencari tahu ke Markas Polda Metro Jaya.

Berdasar informasi awal, pada Rabu, sekitar pukul 14.00 WIB, Ravio mengadu kepada SAFEnet kalau ada yang meretas WhatsApp-nya. Ketika dia mencoba menghidupkan WhatsApp, muncul tulisan, “You’ve registered your number on another phone”. Setelah Ravio mengecek inbox SMS, ternyata ada permintaan pengiriman one time password (OTP) yang biasanya dipakai untuk mengonfirmasi perubahan pada pengaturan WhatsApp.

Di antara pukul 13.19 WIB hingga 14.05, Ravio mendapatkan panggilan dari nomor 082167672001, 081226661965, dan nomor telepon asing dengan kode negara Malaysia dan Amerika Serikat. Ketika diidentifikasi melalui aplikasi, nomor tersebut merupakan milik AKBP HS dan Kolonel ATD.

Kuat dugaan bahwa pelaku pembobolan menemukan cara mengakali nomor mereka untuk bisa mengambil alih WhatsApp yang sebelumnya didaftarkan dengan nomor Ravio. Karena OTP dikirim ke nomor Ravio, besar kemungkinan pembobol sudah bisa membaca semua pesan masuk lewat nomor tersebut. Ravio sudah menerapkan keamanan berlapis pada WhatsApp-nya: dia telah menerapkan two way verification dan memasang sidik jari, meski tampaknya kemampuan penyadap bisa menembus semua itu.

Ravio juga sempat mengumumkan secara terbuka melalui akun @raviopatra di Twitter bahwa WhatsApp-nya diretas dan dikendalikan oleh orang lain. Dia meminta agar tidak ada yang mengontak WhatsApp-nya, tidak menanggapi pesan yang datang dari nomornya, dan meminta agar dikeluarkan dari berbagai WhatsApp Group (WAG). Dua jam setelah membuat pengumuman, tepatnya pada pukul 19.00 WIB, WhatsApp milik Ravio akhirnya berhasil dipulihkan.

Selama diretas, pelaku menyebarkan pesan palsu berisi provokasi sekitar pukul 14.35 WIB. Pesan yang dikirimkan ke sejumlah nomor tidak dikenal berbunyi, “Krisis sudah saatnya membakar! Ayo kumpul dan ramaikan 30 April aksi penjarahan nasional serentak, semua toko yang ada di dekat kita bebas dijarah.”

Koalisi melihat dan meyakini motif penyebaran itu adalah plotting untuk menempatkan Ravio sebagai salah satu pihak yang dijebak seolah-olah akan membuat kerusuhan. SAFEnet menyampaikan agar Ravio bisa mengumpulkan dan mendokumentasikan semua bukti. Sehingga, Divisi Keamanan Online SAFEnet bisa memeriksa perangkat tersebut lebih lanjut.

Sekitar pukul 19.14 WIB, Ravio menghubungi SAFEnet kembali dan mengatakan, “Mas, kata penjaga kosanku ada yang nyariin aku tapi udah pergi. Tampangnya serem kata dia.” Rekan SAFEnet meminta Ravio untuk mematikan handphone dan mencabut baterai ponsel sesuai prosedur keamanan standar, lalu mengevakuasi diri ke rumah aman.

Ravio sempat menghubungi dan berkomunikasi dengan Pengurus YLBHI untuk meminta advis hukum. Juga menghubungi komisioner Komnas HAM untuk meminta bantuan jika terjadi sesuatu dalam waktu dekat. Ravio sempat mengabarkan sedang bersiap mengevakuasi diri ke rumah aman, tetapi kemudian sudah lebih dari 12 jam tidak bisa lagi dihubungi. Pada saat yang bersamaan, sekitar pukul 00.30 WIB, muncul artikel di seword.com dengan teks memojokkan Ravio disertai dengan hasil tangkapan layar yang mencantumkan pesan provokasi.

Pada Kamis, sekitar pukul 08.00 WIB, SAFEnet mendapat informasi bahwa Ravio ditangkap oleh intel polisi di depan rumah aman, tadi malam. Atas dasar itu, Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus yang terdiri dari sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat sipil mendesak agar:

  1. Presiden Joko Widodo dan kapolri segera melepaskan Ravio Patra, menghentikan proses kriminalisasi, dan indakan-tindakan pembungkaman kepada warga negara lainnya;
  2. Presiden dan kapolri segera menghentikan upaya-upaya dari pihak tertentu untuk meretas gawai ataupun akun media sosial masyarakat yang kritis mendorong pemerintah untuk transparan dan bekerja dengan benar. Pemerintah harus memastikan setiap warga negara dilindungi oleh hukum dalam menikmati hak-hak yang dijamin oleh UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  3. Polri segera membongkar dan mengungkap siapa yang meretas ponsel Ravio. Tentu kemampuan meretas tidak dimiliki oleh sembarang orang/instansi. Polri seharusnya menangkap pihak-pihak yang telah meretas handphone Ravio dan menyebarkan hoax kerusuhan dengan menggunakan WhatsApp Ravio, bukan menangkapnya.

Koalisi Tolak Kriminalisasi dan Rekayasa Kasus terdiri dari SAFEnet, YLBHI, dan LBH Jakarta. Kemudian, LBH Pers, KontraS, AMAR, ICW, dan Lokataru. Selain itu, AJAR, Amnesty International Indonesia, dan ICJR.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed