by

Catatan Hari Kebebasan Pers: Sistem Kerja dan Media Jadi Ancaman

PULUHAN jurnalis berunjuk rasa di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Jumat, 3/5/2019. Aksi demonstrasi itu dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia. | Jejamo.com/Sugiono

Dian Wahyu Kusuma | Sekretaris AJI Bandar Lampung

DALAM situsnya, Reporter Without Border (RSF) mencatat barometer Indonesia pada  urutan 119 dalam hal Indeks Kebebasan Pers Dunia 2020. Angka ini naik lima tingkat dari 2019, yakni 124.

Meski naik peringkat, tapi RSF menilai kebebasan pers masih tertunda dalam masa jabatan periode kedua Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia dianggap gagal menepati janji kampanyenya yang menjanjikan penghormatan terhadap kebebasan pers selama masa lima tahun pertamanya.

Pemilihannya kembali pada Mei 2019 diikuti dengan kerusuhan yang menjadi sasaran banyak wartawan. Masa kepresidenannya itu ditandai oleh pembatasan drastis pada akses media ke Papua Barat (bagian Indonesia di pulau Papua), dan kekerasan terhadap jurnalis lokal terus meningkat. Wartawan asing di Indonesia dapat ditangkap dan dituntut, baik mereka yang mencoba mendokumentasikan pelanggaran militer Indonesia dan mereka yang hanya meliput masalah kemanusiaan. (Rsf.org).

Selain itu, otoritas Indonesia tidak lagi ragu-ragu untuk memutus internet pada saat ketegangan, seperti yang terjadi pada Agustus 2019. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga melaporkan, militer mengintimidasi wartawan, bahkan menggunakan kekerasan terhadap jurnalis yang meliput pelanggaran mereka.

RSF juga mengkaji kelompok agama mengancam hak media untuk memberi informasi. Banyak wartawan mengatakan, mereka menyensor diri sendiri karena ancaman dari undang-undang antipenistaan agama dan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pekerja media tampaknya masih dihantui rasa takut.  Secara global dunia, RSF mencatat pekerja media yang menjadi korban pada 2020, yakni 10 wartawan dibunuh, 0 jurnalis warga dibunuh, dan satu asisten media dibunuh. Di Lampung, Tuti Nurkhomariyah, jurnalis RMOL Lampung, pun menjadi sasaran otoritas pemerintah daerah. Ia mendapat intimidasi di tengah publik dalam suatu acara resmi di Bandar Lampung.

Sementara, Internasional Federation of Journalist (IFJ) mencatat di Asia Selatan masih ada pembunuhan terhadap wartawan.  Ancaman dan tuntutan hukum masih saja terjadi terhadap wartawan. IFJ juga mencatat, pada 2019 riset situasi belum ada perubahan siginifikan tentang kebebasan pers di Indonesia.

Pada 2018 menuju 2019, tren ancaman jurnalis berubah signifikan. IFJ bersama AJI dalam survei pada 2018 menilai yang menjadi masalah berat jurnalis di Indonesia adalah job security atau ketidakpastian penghasilan. Pekerja pers yang tidak menentu itu akibat disrupsi media yang selalu berubah, upah tidak layak, lalu iklim kerja yang kurang. Kemudian, ditambah jam kerja yang panjang, bayang-bayang kesehatan mental terganggu, dan ancaman stres.

Pada 2019, yang menjadi tantangan bagi jurnalis, yakni kekerasan jurnalis dari sistem kerjanya, kolega, institusi media, dan keluarga juga menjadi ancaman. Karena sepanjang 2019 banyak demonstrasi terjadi di Indonesia, sebagai upaya warga menuntut pemerintah. Demonstrasi itu diliput jurnalis yang dalam perkembangannya ada polisi dan warga memburu jurnalis, memukul, dan meminta menghapus rekaman video.

Selanjutnya, orang bisa melakukan kekerasan terhadap jurnalis. Tapi, di Indonesia, pelakunya tidak bisa dihadirkan di pengadilan. Hal ini karena investigasi oleh otoritas masih setengah hati terhadap kekerasan jurnalis, sehingga budaya impunitas terhadap jurnalis masih kuat.

Pada masa pandemi global virus corona (Covid-19), kerja jurnalis masih sangat dibutuhkan oleh warga. Tapi sayangnya, kerja jurnalis di tengah pandemi tak mudah. Jurnalis bisa menyajikan informasi yang valid saat media sosial banyak menyebarkan mis/dis informasi.

Jurnalis sebagai frontliner saat pendemi ini harus menjadi perhatian semua pihak. Kerja jurnalis harus dilengkapi pula alat pelindung diri. Karena kalau jurnalisnya sakit, tak ada berita yang beredar di masyarakat. Begitu pentingnya jurnalis saat krisis pandemi yang belum mau pergi ini. Dan semoga pers semakin bebas di Indonesia. Selamat Hari Kebebasan Pers Dunia, 3 Mei 2020. Salam Independen!

Baca juga Hari Kebebasan Pers Sedunia: Jurnalisme Bebas-Berkualitas Aset Demokrasi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed