by

Udin

PULUHAN jurnalis berunjuk rasa pada Hari Kebebasan Pers Sedunia di Bundaran Tugu Adipura, Enggal, Bandar Lampung, Jumat, 3/5/2019. | duajurai.co/Umar Robani

Wakos Reza Gautama | Ketua AJI Bandar Lampung 2010-2013

Nek tetep mboten diungkap, kula tetep mboten trimah dugi kiamat (kalau tidak diungkap, saya tetap tidak akan terima hingga kiamat).” Sepenggal kalimat penuh kegeraman ini keluar dari mulut perempuan berusia 74 tahun.

Mujilah namanya. Perempuan renta ini menuturkan kalimat getir itu beberapa hari sebelum dirinya wafat pada 24 Juni 2013. Mujilah patut, harus, bahkan wajib hukumnya marah. Sudah hampir 20 tahun sejak anaknya dibunuh, keadilan tidak juga tiba.

Muhammad Syafrudin nama anak Mujilah. Syafrudin yang biasa disapa Udin adalah seorang jurnalis di harian Bernas Yogyakarta. Udin harus meregang nyawa dengan tragis yang mungkin tidak pernah ada di benak Mujilah.

Kala itu, 13 Agustus 1996, pukul 22.40 WIB, Udin sedang asyik bermain game di komputer di kontrakan yang sederhana. Tiba-tiba kekhusyukan Udin mesti terganggu karena kedatangan tamu tak diundang. Marsiyem, sang istri, yang sedang menyetrika pakaian membukakan pintu.

Tak ada rasa curiga di hati Marsiyem terhadap orang yang tak dikenalnya itu. Ia memanggil suaminya. Begitu pun Udin. Ia menemui tamu yang datang pada waktu tidak wajar. Tiba-tiba terdengar bunyi “bak bik buk”dan suara orang gaduh.

Marsiyem kaget. Dengan terburu-buru ia meninggalkan pekerjaannya guna melihat situasi di depan rumahnya. Marsiyem makin terperanjat. Suaminya tergeletak di lantai bersimbah darah. Tamu yang datang sudah tak tampak batang hidungnya.

Udin sempat koma di rumah sakit selama tiga hari sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhir. Kenangan terakhir yang penuh tragedi. Polisi sempat mengusut, bahkan membawa seorang tersangka ke meja hijau.

Namun, di hadapan para hakim itu terungkap bahwa proses hukum yang terjadi hanyalah rekayasa. Tersangka yang dibawa ke pengadilan bukanlah pembunuh Udin sebenarnya. Sampai hari ini, polisi tidak juga mampu mengungkap siapa pembunuh Udin.

Kenapa Udin Dibunuh?

Udin adalah sosok jurnalis pemberani. Sebagai pewarta, Udin paham benar tentang tugasnya sebagai pemantau kekuasaan. Ia tidak segan-segan membuat laporan jurnalistik yang mengungkap penyelewengan oleh penguasa.

Salah satu beritanya yang berani berjudul “Dana IDT Hanya Diberikan Separuh.” IDT dimaksud kepanjangan dari Inpres Desa Tertinggal. Dalam berita tersebut, Udin melaporkan ada pemotongan sebesar Rp10 ribu oleh pemerintah setempat.

Bupati Bantul ketika itu Kolonel Sri Roso Sudarmo gerah dengan pemberitaan tersebut. Berita inilah yang diduga memiliki korelasi dengan kematian Udin. Keberanian Udin ini sempat mendapat teguran dari Marsiyem.

“Ya, mbok kalau menulis berita jangan terlalu berani,” kata Marsiyem dalam percakapan terakhirnya sebelum Udin dianiaya. “Ya, gimana, memang kenyataannya begitu, yang saya tulis itukan kenyataan. Kalau memang saya harus mati akan saya terima,” jawab Udin.

Udin bukanlah satu-satunya jurnalis yang tewas dan kasusnya tidak pernah terungkap. Berdasarkan catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) setidaknya delapan jurnalis tewas yang kasusnya belum terungkap.

Kedelapan jurnalis yang mati dibunuh itu adalah Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin, Naimullah, Agus Mulyawan, Muhammad Jamaluddin, Ersa Siregar, Herliyanto, Adriansyah Matra’is Wibisono, dan Alfred Mirulewan.

Kematian Udin dan tujuh jurnalis lain menjadi catatan hitam bagi kebebasan pers di Indonesia. Kematian Udin juga luka menganga bagi demokrasi Indonesia. Pemerintah mesti bertanggung jawab terhadap pengusutan kasus ini sampai selesai.

Perlindungan hukum menjadi jaminan bagi para jurnalis dalam menjalankan tugasnya sebagai pilar utama demokrasi. Jurnalis tentu tak ingin apa yang dialami Udin terulang kembali. Cukup Udin dan tujuh jurnalis lain yang mesti menebus kebenaran dengan harta paling berharga: Nyawa!

Di mana Keadilan Itu?

Mujilah hanyalah orang kecil. Tapi, ia tetap warga negara yang mesti mendapat kepastian hukum. Namun, nurani para penegak hukum tidak pernah berbicara. Mereka tidak pernah bisa merasakan perih hati Mujilah.

Pada hari-hari terakhirnya hanya satu keinginan Mujilah. Keadilan bagi Udin, yang menjadi barang mewah bagi orang seperti Mujilah.

Apakah keadilan bisa menyelusup, masuk, dan merasuk ke dalam gubuk-gubuk reot, kolong jembatan, atau hanya mendekam di balik istana-istana kemewahan? Haruskan Mujilah mencari dan menemukan keadilan itu di alam baka?

Yang pasti, kata Iwan Fals, matinya seorang wartawan bukan matinya kebenaran. Biarpun Udin telah mati, kebenaran yang ia sampaikan dengan penanya tak lekang di makan zaman. Kami tetap tahu, Udin mati karena kebenaran!

Pers Hari Ini

Pers kita hari ini pun kian dihadapkan dengan tantangan yang makin berat. Ancaman kekerasan dari aparatus negara makin menjadi. Kasus Ravio Patra menjadi contoh paling kini bagaimana aparat negara membungkam suara-suara kritis.

Ravio Patra memang bukan jurnalis, tapi apa yang ia alami, bisa juga terjadi pada jurnalis kritis yang menyuarakan kebenaran.

Negara lewat perangkatnya, bisa dengan mudah mengkriminalkan jurnalis hanya karena pemberitaan yang tidak sesuai selera penguasa. Ini tentu berbahaya bagi kelangsungan demokrasi kita.

Ancaman yang juga tak kalah menakutkan adalah yang namanya corona. Di tengah pandemi corona yang melanda dunia saat ini, dunia pers terkena dampak. Sebagai perusahaan yang juga mencari profit, industri pers dihadapkan pada ancaman rugi.

Jika ini terjadi, dampak paling terasa adalah pada para jurnalis pekerja di perusahaan media. Atas nama efisiensi, upah jurnalis dikorbankan. Pemotongan gaji mulai terjadi di beberapa perusahaan pers. Sudah bekerja bertaruh nyawa di lapangan menghadapi corona, jurnalis hanya mendapatkan upah di bawah standar. Lama-kelamaan gelombang PHK bisa menghantam pekerja media. Bahkan, sudah ada beberapa media yang tumbang.

Karena itu pada Hari Kebebasan Pers Sedunia ini kita tak layak merayakannya, memperingatinya. Yang terjadi justru, di sudut ruangan, seorang jurnalis sibuk mencari nasibnya sendiri. “Di mano cari ado?”(*)

Baca juga Catatan Hari Kebebasan Pers: Sistem Kerja dan Media Jadi Ancaman

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed