by

Djin, Sang Cendekiawan Demonstran

-Pendapat-154 views
SOE Hok Djin alias Arief Budiman semasa hidup | Youtube

Wandi Barboy Silaban | Jurnalis Lampung Post

“Onhoorbaar groeit de padie.. tanpa terdengar padi tumbuh”

Entah mengapa terlintas kalimah sakti dari Multatuli di atas saat saya membaca berbagai catatan dan obituarium tentang Soe Hok Djin aka Arief Budiman, cendekiawan sekaligus aktivis prodemokrasi beberapa saat usai kepulangannya kepada Sang Khalik. Tulisan dari kolega, sahabat, murid, aktivis, dan mereka yang mengidamkan cita-cita masyarakat yang adil dan sejahtera seakan beresonansi satu sama lain hendak mengabarkan cendekiawan sekaligus tokoh demonstrasi itu berpulang dengan tenang.

Ungkapan tanpa terdengar padi tumbuh itu juga membentangkan ingatan akan kisah saat Soe Hok Djin duduk termenung di sebelah peti jenazah adiknya, Soe Hok Gie. “Tiba-tiba saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang,” tulis Soe Hok Djin dalam kata pengantar Catatan Seorang Demonstran yang ditulis Soe Hok Gie.

Ben Anderson, sahabat Soe Hok Gie, juga pernah mengguratkan catatan tentang Soe Hok Gie dalam sepucuk suratnya. Indonesianis yang pernah dicekal rezim Orde Baru itu menulis, “Gie, lebih dari seorang teman setia yang bisa dipercaya. Ia memiliki keberanian dan semangat yang terus menyala-nyala. Dia adalah simbol untuk semua harapan kita. Tetapi, Gie juga seorang yang selalu gelisah. Gie pernah menulis surat ke saya bahwa Gie merasa sendirian,” tulis Ben pada sepucuk suratnya berjudul: In Memoriam Soe Hok Gie dengan terjemahan bebas.

Baik Soe Hok Gie maupun Soe Hok Djin, keduanya memilih jalan yang sama. Meski terkesan berjuang sendirian di tengah rezim yang berkuasa dan dipenuhi dengan oportunisme, keduanya tetap berdiri tegak dengan prinsip dan nilai-nilai kebenaran dan menjunjung tinggi demokrasi.

Menurut hemat saya, seperti itulah cara mengenangkan kisah saat membaca kiprah dan sosok mendiang yang ditulis oleh mereka yang mengenal dan mengagumi Soe Hok Djin. Cendekiawan sekaligus aktivis terus bermunculan ke permukaaan. Namun, saat cendekiawan atau kaum intektual mulai merapat kepada kekuasaan, semua yang diperjuangkan seakan hilang. Idealisme tenggelam diterjang pragmatisme. Tindak tanduk cendekiawan itu hanya menjadi corong penguasa. Demikianlah siklusnya.

Namun, Djin, demikian mula-mula namanya disapa secara karib sebelum menjadi Arief Budiman, adalah sosok intelektual yang berbeda. Ia terus hadir dalam mengritisi kekuasaan yang sewenang-wenang dan berpihak kepada yang benar. Layaknya jurnalisme, Djin berpihak kepada kebenaran. Ya, sosok Djin akan terus muncul dan mengusik para penguasa yang menghegemoni kehidupan masyarakatnya dengan ketidakadilan dan diskriminatif.

Yang menarik, setelah ia mengkritik penguasa dan suaranya mulai “diterima” publik dan republik, Djin tidak mau bergabung dan terlarut dalam kekuasaan. Ia menolak segala hal yang tidak sesuai idealismenya. Sementara kawan-kawannya yang menjadi aktivis 1966 yang sebelumnya sama-sama mengkritisi rezim Soekarno telah merapat kepada kekuasaan, Djin tidak. Seperti adiknya, Soe Hok Gie, yang juga mengkritisi semua aktivis yang merapat kepada kekuasaan, Soe Hok Djin juga memilih jalan yang persis seperti adiknya. Jalan senyap. Seperti padi, tidak terdengar tapi tumbuh. Djin absen dalam perebutan kue pembangunan yang banyak diperebutkan aktivis pro demokrasi masa itu. Sebab, itu adalah suatu peralihan dari rezim Soekarno ke rezim Soeharto yang tentu banyak membutuhkan tenaga-tenaga terampil untuk pembangunan yang dinamakan Orde Baru. Di titik ini, Djin dan Gie terlihat mengasingkan diri.

Mereka mengambil pilihannya masing-masing. Gie dengan hobinya yang naik gunung, Djin dengan minatnya pada sastra dan seni. Perlahan tapi pasti, keduanya akhirnya menunjukkan keberpihakannya kepada orang kecil, tertindas, dan yang lemah.

Intelektualisme

Tidak pelak lagi, Djin adalah avant-garde intelektualisme Indonesia periode 1966-1990-an. Hampir segala bidang ia geluti. Politik, seni, sastra, akademik, film, dan lainnya. Dalam bidang politik, Djin adalah salah satu konseptor utama golongan putih (Golput) yang menolak pemilihan umum dengan cara tidak melakukan pencoblosan karena sudah pasti diketahui siapa pemenang pemilihan umum tersebut. Bahkan, ada selentingan yang menyatakan ia adalah Bapak Golput Nasional.

Dalam bidang sastra, Djin adalah salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan yang berpolemik dengan Lekra dalam pertarungan wacana konsep seni, sastra, dan kebudayaan pada zaman demokrasi terpimpin di bawah rezim Soekarno. Tidak hanya itu, Djin juga merumuskan Kritik Ganzheit, sebuah kritik dengan pendekatan ekspresif kepada pengarang dan karyanya dalam sebuah kritik sastra. Di lapangan sastra ini, Djin memang tidak membuat karya sastra. Ia terus menguliti sastra dengan memadukan teori-teori akademik. Bersama koleganya Ariel Heryanto, ia juga membuat alternatif lagi tentang sastra pada periode 1980-an dan telah dibukukan dalam buku Perdebatan Sastra Konstektual.

Tidak hanya politik dan sastra, di lapangan akademis ia juga konsisten menghasilkan karya-karya yang bermutu. Pembagian kerja secara seksual: Sebuah pembahasan sosiologis tentang peran wanita di dalam masyarakatTeori Pembangunan Dunia KetigaChairil Anwar Sebuah Pertemuan yang diangkat dari skripsinya, dan tentu saja buku yang diangkat dari disertasinya yaitu Jalan Demokratis ke Sosialisme Pengalaman Chili di bawah Allende. Ihwal teori ketergantungan dunia ketiga, misalnya, ini menjadi salah satu teori yang sangat dikuasai Djin secara komprehensif.

Bung Hatta, salah satu proklamator yang juga memiliki sikap sederhana, dalam buku Demokrasi Kita yang mengkritisi betapa otoriternya Demokrasi Terpimpin pernah menuliskan pertentangan idealisme dan realita. “Sejarah Indonesia sejak 10 tahun yang akhir ini banyak memperlihatkan pertentangan antara Idealisme dan Realita. Idealisme yang menciptakan suatu pemerintahan yang adil yang akan melaksanakan demokrasi yang sebaik-baiknya dan kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya. Realitas daripada pemerintahan, yang dalam perkembangannya kelihatan makin jauh dari demokrasi yang sebenarnya,” tulis Hatta.

Seperti diutarakan sahabatnya, Goenawan Mohamad, sastrawan sekaligus pendiri majalah Tempo, bahwa Djin adalah aktivis dengan idealisme murni. Ihwal idealisme yang murni inilah yang kini jarang untuk tidak menyebut langka di negeri ini. Cendekiawan sekaligus aktivis kini justru mempertontonkan kemesraannya dengan kekuasaaan. Maka, sosok Djin kini hadir menjulang setinggi-tingginya di tengah defisitnya cendekiawan yang kritis yang dimiliki republik.

Pramoedya Ananta Toer saat menghadiri undangan senat UI pernah berbicara tentang Sikap dan Peran Kaum Intelektual di Dunia Ketiga. Menurutnya, kaum intelektual janganlah menjadi intelektual blanko (kosong). Dalam artian, tidak terlibat dan tidak menjadi bagian dari bangsanya (nasion). Seorang yang dinamakan kaum intelektual memiliki pertanggungjawaban moral untuk bangsanya.

Pram menegaskan kaum intelektual Indonesia, sebagai manusia budaya Indonesia sudah sepatutnya mempunyai keberanian intelektual dan keberanian moral terhadap Barat untuk menuntut dari Barat segala yang terbaik dan berguna, teknologi dan sains, bukan sebagai hadiah kemanusiaan seperti halnya dengan Van Deventer dengan politik etiknya. Praktiknya, terus-menerus yang menjamin lahirnya kedibyaan (genialitas) sehingga keintelektualan bukan tinggal jadi atribut sosial, tapi fungsional, dan membikínnya patut jadi penalaran dan nurani nasion.

Maka, kaum intelektual Indonesia tidak bisa lain mesti menata kembali dan mengorganisasi secara sadar perasaan dan pikirannya dalam membangun lebih lanjut bangsa Indonesia dalam segala aspeknya. Pada titik ini, saya kira, Djin telah menjalankan tugasnya sebagaimana yang digariskan Pram tentang sikap dan peran kaum intelektual di dunia ketiga.

ARIEF Budiman, sosiolog, aktivis demonstran tahun 66, kelahiran Jakarta, 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin. Tahun 1968 lulus Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, tahun 1980 meraih Ph.D dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. | Kompas/Hasanuddin Assegaf

Sementara itu, cendekiawan sekaligus intelektual terkemuka pada abad 20, Soedjatmoko, juga pernah menuliskan tentang peran cendekiawan di negara berkembang. Ya, sebelum Djin berkibar dengan teori ketergantungan dunia ketiganya, Soedjatmoko lebih dahulu menuliskan pemikirannya yang juga bercorak sosialisme. Buya Syafii Maarif, guru bangsa itu pernah menyatakan Soedjatmoko adalah teladan kaum intelektual Indonesia yang tengah berhadapan dengan pragmatisme intelektualitas. “Sosoknya harus dikenal oleh kaum muda di tengah terjadinya degradasi dan inflasi yang dihadapi intelektual, para doktor-doktor kita yang mengedepankan pragmatisme,” ujar Buya Syafii Maarif, puluhan tahun silam.

Menurut Soedjatmoko, sumbangan utama kaum cendekiawan sedikitnya bisa dirumuskan dalam tiga hal. Pertama, mengubah persepsi bangsa dalam menghadapi berbagai persoalan; Kedua, mengubah kemampuan bangsa menanggapi masalah baru, dan terakhir, mengubah aturan main dalam pergulatan politik. Dalam artian, idealisme kaum cendekiawan dalam pemikiran Soedjatmoko harus disertai pragmatisme dalam bertindak. Tegasnya, untuk melawan kemandekan, cendekiawan dituntut bukan hanya berani, tetapi juga keluwesan yang cerdik dan pemahaman yang mendalam akan masyarakatnya.

Tidak berlebihan rasanya jika saya juga mencatat bahwa Djin telah menggenapi semua tugas kecendekiawanan yang dimaksud para pendahulunya, seperti Hatta, Pramoedya Ananta Toer, dan Soedjatmoko. Namun, orang yang dikagumi Djin bukan ketiga nama besar dalam dunianya masing-masing itu. Ia justru mengagumi jurnalis legendaris sekaligus sastrawan, Mochtar Lubis.

Pada buku Mochtar Lubis Wartawan Jihad (1992), Soe Hok Djin menuliskan kesannya saat kali pertama bertemu dengan Mochtar Lubis di tempat yang kurang biasa: Penjara! Itu terjadi pada 1966. Judul tulisan Djin pada buku tentang kiprah 70 tahun Mochtar Lubis itu adalah Manusia Multidimensional dan Kontroversial. Djin mula-mula mengenal Mochtar sebagai novelis yang berhasil. Jalan Tak Ada Ujung, novel karya Mochtar Lubis sangat mengesankan Arief Budiman.

Sebagai akibat keberaniannya sebagai wartawan dirinya sendiri juga terpaksa ‘diberangus’. Dua kali orang ini masuk bui, Orde Lama dan Orde Baru.” (Hlm.117)

Menurut Djin, sebagai orang muda yang mendamba kebebasan, Mochtar Lubis adalah pejuang demokrasi yang tidak pernah istirahat. (hlm. 120). Mochtar dipenjara di rumah penduduk di gang Tembok yang dijadikan semacam rumah tahanan. Mochtar tidak sendiri. Ia bersama Soebadio Sastrosatomo, Natsir, H.J.C. Princen. Setelah pertemuan itu, mereka bersepakat mendirikan majalah Horison dan mendapuk Mochtar Lubis sebagai pemimpin redaksinya. Begitulah. Seiring berjalannya waktu, keduanya semakin akrab .

Namun, hubungan baik dengan Mochtar bukan tanpa perbedaan pendapat. Suatu ketika Djin diwawancarai sebuah media ibu kota tentang Bung Karno. Djin menyebutkan bahwa Bung Karno harus dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena jasanya yang besar. “Saya menentang kepemimpinan Bung Karno menjelang 1965 karena keotoriterannya. Tetapi, jasanya sebagai pemimpin bangsa sangat besar dan tidak bisa dihapus oleh siapa pun juga.” (Hlm.123).

Kontan saja pernyataan Djin ini mendapat sentilan dari harian Indonesia Raya yang digawangi Mochtar Lubis. Indonesia Raya menganggap Djin masih terlalu hijau untuk berpolitik. Djin tetap pada pendiriannya dan mengerti posisi Mochtar Lubis dan kawan-kawannya yang pernah dibui oleh rezim Sukarno.

Perbedaan pendapat lainnya saat Djin bersama teman-teman lainnya berkampanye untuk memboikot pemilihan umum. Gerakan yang kemudian populer dengan nama Golput ini tidak disetujui oleh Mochtar Lubis. “Bagi Mochtar, Golkar merupakan alternatif bagi gerakan pembaruan politik di Indonesia, menggantikan partai-partai politik yang baginya sudah berdosa dengan berkompromi dengan pemerintahan Sukarno yang otoriter.” (Hlm.124)

Sekali lagi, Djin bisa memaklumi posisi Mochtar Lubis dalam menghadapi Golput. Namun, Djin tetap teguh pada pendiriannya. Menurutnya, Golkar dalam mencapai harapan sebagaimana dimaksud Mochtar Lubis dan kawan-kawan dalam harian Indonesia Raya telah melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Misalnya, dalam Undang-undang Pemilihan Umum yang membatasi masyarakat membentuk partai baru. Juga dalam pelaksanaan pemilu yang melanggar asas-asas demokrasi antara lain memaksa pegawai negeri untuk memilih Golkar. Kalau tidak, mereka akan diberhentikan dari pekerjaannya.

Lantas, bagaimana Mochtar Lubis tampil kepada Djin, sebagai generasi yang lebih muda? Menurut Djin, Mochtar Lubis seperti kompas, yang selalu menyadarkan Djin tentang arah dan arti kehidupan. Mochtar tidak pernah tergiur oleh iming-iming kekuasaan atau harta. Suatu sikap yang kelak diteladani oleh Soe Hok Djin dari Mochtar Lubis hingga akhir hayatnya.

Sebagaimana tulisan Djin tentang sosok Mochtar Lubis yang ditulisnya manusia multidimensional yang kontroversial, Sosiolog Ignas Kleden pada harian Kompas, Selasa, 12 Mei 2020, pada satu halaman opini berjudul Arief Budiman, Aktivisme dan Diskursus Publik menuliskan, “Arief Budiman adalah pribadi yang cukup sering menimbulkan kebingungan dan bahkan kontroversi, tidak saja selama hidupnya, tetapi bahkan setelah akhir hayatnya pada 23 April 2020. Pada pungkasan catatan yang mendalam itu, Kleden menuliskan,”Pada akhirnya, Arief Budiman menjadi tokoh yang dikenang, dihormati, bahkan dicintai, karena dia hidup untuk suatu aktivisme yang tanpa pamrih, yang sanggup menggerakkan diskursus publik, mungkin tanpa dia sendiri sepenuhnya sadar akan peran tersebut.” Demikian Kleden menutup opininya yang mendalam dan bernas tentang Soe Hok Djin.

Tetiba, ingatan saya melayang kala menonton Djin diwawancarai jurnalis televisi puluhan tahun silam. Ya, saya pernah menyaksikan Djin diwawancarai wartawan televisi saat ia belum menderita parkinson di rumahnya di Salatiga yang diarsiteki Romo Mangun. Saya takjub memandang griyanya. Rumah itu terkesan sederhana sekali. Entah mengapa bangunan rumah itu seperti didominasi anyaman bambu dan kayu yang saling berpadu. Simpel. Dari penggambaran rumah ini, orang bisa melihat betapa sederhananya sosok sang empunya rumah.

Jurnalisme

Sedikit yang mengetahui Soe Hok Djin pernah menjadi salah satu aktor sejarah dalam dunia jurnalisme di Indonesia. Oleh sebab Djin pernah menjadi bagian dari sejarah jurnalisme di Indonesia, izinkan saya menyambung sedikit catatan ini ihwal jurnalisme.

Soe Hok Djin diketahui menjadi satu di antara 50-an deklarator di Sirnagalih, Bogor, pada 7 Agustus 1994. Dari sinilah berdiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah organisasi yang dibentuk untuk melawan keotoriteran penguasa orde baru dalam bidang pers. Dari sini terlihat jelas betapa konsistennya ia pada sikap dan prinsip melawan penguasa yang tidak adil.

Pada buku Bredel 1994 Kumpulan Tulisan Tentang Pemberedelan Tempo, Detik, dan Editor yang diterbitkan oleh AJI pada tahun yang sama, Djin menuliskan catatannya yang berjudul Ketakutan Pers, Ketakutan Kita. Catatan itu dibuka dengan kutipan utama Djin yang menyentil situasi dan kondisi pers di Indonesia. “Pers kita hidup dalam ketakutan karena pemerintah masih sangat kuat, sedangkan lembaga-lembaga masyarakat masih kurang berarti. Maka, pers yang mau berjuang harus berhitung dua kali sebelum melanjutkan misinya. Apa boleh buat, kapitalisme sudah merasuk kemana-mana, juga ke dunia pers.” (Hlm.23).

Menurut Djin, ketika TempoEditor, dan Detik diberedel, reaksi dari kalangan pers sendiri tidak jelas. Maka, timbul kesan seakan-akan masalah pemberangusan pers hanyalah sekadar soal sosial ekonomi, bukan masalah kemerdekaan pers dan demokrasi. Di titik ini, kembali terlihat konsistensinya terhadap kemajuan demokrasi di negeri ini.

Secara singkat, Djin menggolongkan ada empat macam reaksi pers. Tipe pertama, reaksi yang bersimpati terhadap media yang diberangus. Tipe kedua adalah mereka yang bersimpati, tapi tidak berani bersengketa dengan pemerintah. Tipe ketiga adalah mereka yang mendukung pemberangusan, baik untuk alasan politis maupun bisnis. Tipe keempat adalah mereka yang mendukung pemberangusan, tapi tidak berani menyatakan sikapnya.

Djin menilai pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan keempat tipe pers di atas berbunyi senada. Perbedaannya hanya terletak pada permainan bahasa. “Pers kita memang hidup dalam ketakutan; ketakutan terhadap pemerintah dan ketakutan terhadap pandangan masyarakat. Ketakutan pertama menghambat perkembangan demokrasi, dan ketakutan kedua sebaliknya,” tulis Djin (Hlm.25).

Ini berbeda, misalnya, dengan masyarakat nonpers. Sikap dan tindakan mereka lebih jelas. Oleh karena pemberangusan pers merupakan tindakan yang membahayakan sendi-sendi demokrasi, maka tidaklah mengherankan kalau para cendekiawan, mahasiswa, dan pejuang-pejuang demokrasi lainnya menjadi prihatin dan turun ke jalan. Adanya orang-orang seperti inilah yang membuat hati Djin merasa terenyuh. Di satu sisi, Djin sedih melihat kenyataan bahwa bangsa ini, setelah lebih dari setengah abad kemerdekaan, masih hidup dalam ketakutan. Di lain sisi, Djin merasa terharu melihat adanya orang-orang (kebanyakan anak muda) yang masih berani secara lantang dan terbuka menyatakan suara hati mereka.

Pungkasan catatan yang ditulis Djin itu begitu menohok. Ia menulis: Tidak, bangsa ini belum terlalu tenggelam!

Demikianlah catatan saya tentang Soe Hok Djin. Sebagai cendekiawan ia bukanlah tipe cendekiawan yang berada di menara gading. Ia cendekiawan yang turun ke jalan. Ia tidak segan-segan berdemonstrasi menuntut keadilan dari para penguasa. Bahkan, ia rela menderita demi prinsip yang dipegangnya.

Seperti Soe Hok Gie yang menuliskan Catatan Seorang Demonstran dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Djin juga mengkhidmati jalan hidupnya sebagai seorang demonstran dan menyebut dirinya adalah penganut ajaran Karl Marx. Djin adalah cendekiawan sekaligus demonstran. Selamat jalan, Sang Cendekiawan Demonstran…(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed