by

GMKI Bandar Lampung Kecam Keras Intimidasi Diskusi Rasial Papua

PEMIMPIN Umum Teknokra Chairul Rahman diwawancarai jurnalis usai melaporkan teror dan peretasan di Polda Lampung, Kamis, 11/6/2020. | dok. AJI Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Bandar Lampung mengecam keras tindakan intimidatif terhadap jurnalis mahasiswa Teknokra Universitas Lampung (Unila) sebagai penyelenggara Diskusi “Diskriminasi Rasial Terhadap Papua”. Tindakan tersebut merupakan bentuk ancaman terhadap kebebasan berekspresi masyarakat yang menciderai demokrasi dan kehidupan bermasyarakat.

Ketua GMKI Bandar Lampung Ranto SA Pasaribu mengatakan, teror yang dialami jurnalis Teknokra berpotensi menjadi pembungkaman terhadap publik dan pelanggaran atas hak privasi karena dibarengi peretasan. Diskusi yang digelar Teknokra merupakan bentuk kebebasan berpendapat yang seyogianya mendapat perlindungan.

“Kami meminta pihak kepolisian serius dalam mengusut pelaku agar isu tidak bergulir lebih luas dan mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. Jika tindakan intimidatif itu memang benar melibatkan aparat negara, maka ini adalah preseden buruk dan jelas pelanggaran HAM,” kata Ranto, Sabtu, 13/6/2020.

Dia menyatakan, GMKI sangat mendukung dan mengapresiasi setiap bentuk diskusi serta forum akademik. Pihaknya juga menjunjung tinggi kebebasan menyatakan pendapat bagi seluruh warga negara.

“Kami menyampaikan empati kepada pihak penyelenggara diskusi dan keluarga yang menjadi korban intimidasi. Ancaman dan intimidasi pastinya meninggalkan trauma psikologis bagi korban. Oleh karena itu, pendampingan serta perlindungan bagi korban perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Dua jurnalis Teknokra Unila mengalami teror dan peretasan akun media sosial (medsos). Keduanya, Pemimpin Umum Teknokra Chairul Rahman dan Pemimpin Redaksi Mitha Setiani Asih. Mereka mengalami teror dan peretasan setelah mengumumkan Diskusi Daring “Diskriminasi Rasial Terhadap Papua”, Kamis, 11 Juni 2020, pukul 19.00 WIB. Mitha menjadi moderator, sedangkan Chairul sebagai narahubung diskusi.

Tak hanya Mitha, akun aplikasi pesan salah satu narasumber juga diretas, yaitu Tantowi Anwari dari Serikat Jurnalisme untuk Keberagaman (Sejuk). Bahkan, akun aplikasi pesan istrinya turut diretas. Pascadiskusi, akun WhatsApp orang tua Mitha diretas.

Peretasan juga dialami Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung Hendry Sihaloho. Akun Facebook dan Instagram-nya tak bisa diakses. Belakangan, akun Instagram Hendry dilaporkan hilang tanpa jejak. Teleponnya juga sempat tak bisa dihubungi meski dalam keadaan aktif dan sinyal bagus. Peretasan itu setelah Hendry mengadvokasi Chairul dan Mitha serta mem-posting teror dan peretasan terhadap mereka di media sosial.(*)

Baca juga Fasilitator Diskusi Papua Teknokra Diteror, Amnesty: Hentikan Pembungkaman Kebebasan Berekspresi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed