by

Tetaplah Jadi Orang Baik, Johan

-Pendapat-123 views
KEDAI Mi Aceh di seberang Transmart, Way Halim, Bandar Lampung | ist

Hendry Sihaloho | Jurnalis

HAWA dingin saat bermotor belum hilang ketika kau sampai di Kedai Mi Aceh, Way Halim, Bandar Lampung, Jumat malam, 6 November 2020. Kau tiba bersamaan dengan dua teman mahasiswa. Setelah tegur sapa, kalian masuk ke dalam kedai.

Namun, kau merasa tak nyaman. Kepulan asap rokok dan vape serta orang-orang yang tak jaga jarak membuatmu risi. Kau akhirnya mengajak kawan mahasiswa ke ruang terbuka. Setidaknya-pikirmu-potensi penyebaran virus corona lebih kecil di ruang terbuka.

Setelah memesan minum, kalian pindah ke ruang terbuka. Namun, kau segera menyadari ada sesuatu yang luput. Benda penting yang dipersiapkan ketinggalan: STNK.

Malam Sabtu itu, kau janji bertemu kawan untuk memulangkan STNK. Kau pun kembali ke rumah dan meninggalkan temanmu mahasiswa di sana.

Kurang dari 15 menit, kau sudah di Kedai Mi Aceh. Dari atas sepeda motor, kau melihat temanmu yang lain baru tiba. Setelah mencabut kunci kontak, kau meraba saku sweter. Kosong. Kau merasai ada sesuatu yang hilang: Ponsel!

Kau langsung mengamati sekitar sepeda motor. Namun, barang yang dicari tak ketemu. Kau pun buncah. Intuisimu mengatakan alat komunikasi itu terjatuh. Lalu, kau memanggil kawan-kawanmu dan memberitahu ponselmu hilang. Dalam keadaan gelisah kau tak lupa mengembalikan STNK.

Nalar pendekmu bekerja. Setelah pamit, kau menyusuri jalan yang dilalui dengan sepeda motor. Bahkan, kau melawan arah. Kau bergumam dalam hati, “Siapa tahu terjatuhnya tak jauh dari Kedai Mi Aceh”.

Dua kali kau mengitari jalan yang sama. Namun, hasilnya nihil. Pasrah. Kau sempat ingin kembali bergabung dengan kawan-kawanmu di Kedai Mi Aceh. Namun, setang sepeda motor kau arahkan ke rumah. Kau berharap, ponsel tertinggal di rumah. Sebab, kau sempat pulang untuk mengambil STNK milik kawan.

Ternyata, benda yang kau cari juga tak ada di rumah. Anggota keluarga turut membantu. Namun, tak membuahkan hasil. Kemudian, kau menelepon teman yang menunggu di Kedai Mi Aceh. “Tir, tolong tanya pelayan apakah melihat ponsel?” Fathira-mahasiswa yang sedang berjuang wisuda-menjawab, “Pelayan bilang enggak lihat, bang.”

Kau pun ingin menyudahi pencarian dan berencana mengurus nomor telepon yang hilang ke Graha Pari Sraya (Grapari). Sebelum merealisasi rencana itu, kau meminta ibu menghubungi nomor ponsel yang lenyap. Rupanya, nomor masih aktif. Kau telepon lagi, tapi tak ada yang menyahut. Kau benar-benar pasrah.

Ketika kau putus harapan, telepon ibu tiba-tiba berdering. Di layar ponsel tertera nomormu. Adikmu yang kebetulan memegang ponsel ibu segera menjawab. Kau pun langsung meminta untuk berbicara.

“Halo, saya yang punya telepon. Sepertinya, ponsel saya terjatuh di jalan. Posisi di mana, mas?” tanyamu. Pria di ujung telepon menjawab, “Saya di Tanjung Senang, dekat Rumah Makan Bebek Belur,” sahutnya. Kau tahu tempat itu. “Baik, mas. Saya segera ke sana.”

Kau bergegas dan memacu si kuda besi. Dalam perjalanan, kau melihat spidometer. Indikator bahan bakar di garis merah. Kau tak memerhatikan karena sedari tadi fokus mencari ponsel. Sambil berkendara kau pun mulai berhitung.

Rasiomu, bahan bakar itu tak cukup sampai Tanjung Senang. Sementara, uang dalam dompet tipismu pas-pasan. Kau memutuskan untuk mengisi bahan bakar. Sisanya yang tak seberapa untuk bayar minuman yang terlanjur dipesan.

Kau akhirnya tiba di Rumah Makan Bebek Belur. Gelap. Tak ada orang. Lalu, kau menghubungi nomor ponselmu. “Di mana, mas? Saya di seberang Rumah Makan Bebek Belur,” katamu. “Saya di sini, coba lihat belakang. Saya pakai jaket Maxim,” jawabnya.

Kau kemudian menghampiri orang itu. Ia tampak muda. Melihat dari tampilannya kira-kira berusia 20-an. Bibir atasnya ditumbuhi bulu-bulu tipis. Ia bersama dua temannya-satu di antaranya mengenakan jaket Maxim. Mereka sedang mengetem di barung-barung.

“Selamat malam, mas. Saya yang punya handphone,” ucapmu membuka pembicaraan.

“O iya,” jawabnya tersenyum sembari menyerahkan ponsel.

“Ketemu di mana handphone-nya, mas?” kau bertanya.

“Saya temukan di tikungan Transmart. Tadi, mau diambil bapak-bapak. Saya bilang itu handphone saya,” sahutnya. “Saya menunggu setengah jam di Transmart. Saya pikir, pasti yang punya menelepon. Tapi, tak ada yang menelepon.”

“Oh begitu. Saya memang mau menelepon, tapi handphone ini (ponselmu satu lagi) tak ada pulsa. Lalu, saya pulang ke rumah dan menelepon dari handphone ibu,” jawabmu.

“Waktu masuk telepon, saya sedang di jalan. Makanya, saya tidak jawab. Begitu sampai di sini, saya hubungi balik,” ucapnya.

“Siapa namanya, mas?”

“Nama saya, Johan.”

Setelah mengetahui namanya, kau ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih. Tapi, uang di dompetmu hanya cukup bayar minuman di Kedai Mi Aceh. “Mas Johan, saya tidak punya apa-apa untuk diberikan sebagai ucapan terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikan mas berkali-kali lipat.”

“Iya, mas. Enggak apa-apa kok,” jawab Johan.

“Sekali lagi, terima kasih, mas. Saya izin pamit,” ucapmu.

Kau kemudian meninggalkan Johan dkk. Dari kaca spion, kau melihat Johan kembali menunggu penumpang. Dalam hati, kau berdoa, “Tuhan, lapangkanlah rezeki orang-orang baik.”

Bagi jurnalis seperti dirimu, ponsel tentu barang yang urgen. Selain nomor-nomor orang penting, juga tersimpan data-data berharga. Jika hilang, hampir pasti kau pusing. Johan-tukang ojek online-bisa saja menjual ponselmu. Walau harga tak seberapa, tapi setidaknya bisa menutup biaya hidup sehari-hari.

Setelah bertemu Johan, kau kembali ke Kedai Mi Aceh. Teman-temanmu bertanya soal handphone. Kau pun menceritakan. Mereka kagum dan respek dengan Johan.

Esok pagi, ibumu bertanya, “Siapa yang menemukan handphone-mu?” Kau jawab, tukang ojek online. “Jika itu bukan orang baik, handphone-mu pasti sudah dijual,” ucap ibumu. Kau pun berbatin, “Tetaplah jadi orang baik, Johan.”(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed