by

Memutus Rantai Perburuan Satwa Liar di TNBBS

KANTOR Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Resort Suoh | Hanif Mustafa

LAMPUNG BARAT – Hari itu, gerimis membasahi lembah Suoh di Lampung Barat. Awan terlihat berwarna kelabu di lereng Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tak dapat diprediksi kapan hujan akan berhenti dari atas langit tanah Sekala Brak.

Tiga polisi hutan (Polhut) dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Resort Suoh  bersiap-siap mendaki. Mereka akan menyisir hutan TNBBS yang berbatasan langsung dengan desa penyangga, di antaranya Sukamarga.

“Waktunya patroli, bakal 10 hari di dalam (hutan TNBBS),” ujar salah satu polhut, Selasa, 22 Desember 2020. Ia terlihat menenteng senjata api PM-1A1. “Masih banyak yang berburu di TNBBS, baik mamalia maupun burung.”

Para Polhut meninggalkan kantor Resort Suoh menuju kawasan taman nasional. Menyusuri jalan setapak, ketiganya menggendong ransel yang beratnya hampir 40 Kg. Polisi hutan masih sering menemukan jejak perburuan satwa liar di kawasan TNBBS.

“Sudah beberapa kali kami lakukan sapu jerat (pembersihan jerat ataupun jaring), (tetapi) masih juga ada (ditemukan),” kata Kepala TNBBS Resort Suoh Sulki.

Sebenarnya, Sulki telah mengantongi beberapa nama yang diduga sebagai aktor perburuan satwa liar. Tetapi, itu masih sebatas kecurigaan. Ia belum mau menyebut nama terduga pemburu karena perlu bukti kuat.

“Masih praduga, karena itu kami tetap patroli untuk memastikan. Yang jelas, Resort Suoh dan mitra balai masih sering menemukan (jerat). Kami belum tahu berapa orang pelakunya,” ujar Sulki.

Selain jerat, anggota Polhut juga menemukan alat perangkap lainnya. Mereka banyak menemukan jaring, mika dengan handphone, dan pikat.

“Itu semua untuk memburu burung, banyak caranya. Kalau kami tidak lakukan (langkah) pencegahan, bisa habis juga burung yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan alam. Selain fokus pada satwa kunci, makanya kami patroli,” katanya.

Pemburu mengincar berbagai burung di kawasan TNBBS. Beberapa di antaranya Kapas Tembak, Cucak Ijo, Cucak Ranting, Peri Gunting, dan Rangkong. Warga di sekitar desa penyangga juga masih sering berburu, khususnya burung. Dampaknya, populasi burung kian menyusut di TNBBS. Padahal, keberadaan burung penting bagi kawasan hutan. Sebab, unggas itu membantu penyerbukan bunga menjadi buah, menyebarkan biji, serta mengendalikan serangga yang menjadi hama.

“Ya, (turun) sekitar 4%-5% dari populasi yang ada,” ujar Sulki.

Guna mencegah perburuan semakin masif, TNBBS Resort Suoh relatif sering sosialisasi. Bersama aparat pekon, mereka meminta untuk menghentikan pemburuan satwa. Selain melanggar hukum, tindakan tersebut mengancam keutuhan ekosistem tempat manusia bergantung.

Perlahan tapi pasti, sosialisasi oleh Resort Suoh bersama aparat pekon dan mitra balai membuahkan hasil. Sejumlah warga beralih dari pemburu menjadi kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Juga Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan Bestari-konsorsium peduli lingkungan.

***

Abudin (kiri), eks pemburu dan perambah di TNBBS | Hanif Mustafa

Abudin berusia 52 tahun. Kulitnya tampak legam. Meski berusia lebih dari setengah abad, tapi tubuhnya terlihat agam. Memakai masker sebatas mulut, ia memiliki tahi lalat di tengah hidung.

Abudin adalah mantan pemburu. Ia salah satu warga Pekon Sukamarga yang banting setir menjadi pemandu wisata dan KTH Budi Daya Madu Lanceng.

“Mulai 2017, sejak wisata dibuka, saya sudah berhenti berburu di taman nasional,” ujarnya.

Abudin telah menyerahkan semua senjata dan peralatan berburunya kepada aparat pekon dan satgas TNBBS. Tobat, ia berjanji tidak akan berburu lagi. Kini, ia ingin menjalani hidup lebih tenang.

Baca juga: Pertobatan Abudin, dari Merambah Hutan Kini Budi Daya Madu Lanceng

“Saya sekarang kerja di kawasan (TNBBS), sambil berladang kopi dan beternak madu lanceng,” kata dia. Bekerja dimaksud Abudin adalah menjadi pemandu wisata di Danau Kramikan. Lokasi danau itu masih di kawasan TNBBS.

Ada Pemesan

Sebelum memutuskan berhenti memburu satwa, Abudin ingin hidup bergelimang harta. Orientasinya mengejar kebutuhan duniawi. Dalam berburu, Abudin tidak sendirian. Ia memiliki kelompok.

“Alatnya banyak, ada senapan, jaring, pikat. Ya itu-itu saja kalau untuk burung. Kalau (berburu) mamalia pakai jerat,” ujarnya.

Hasil buruan tidak serta-merta diperdagangkan. Biasanya, ada yang memesan. Namun, Abudin enggan membuka identitas si pemesan.

“Jadi, ada yang pesan dan datang ke sini,” kata Abudin yang tampak berbicara seperlunya.

Peratin Pekon Sukamarga Ahim Abdiani tak memungkiri bahwa masih ada warganya yang berburu satwa di kawasan TNBBS. Kendati tak merinci, ia menyebut jumlahnya berkurang. Berbeda dengan dahulu, banyak warga setempat memburu burung.

Ia bilang, angka pemburuan menurun sejak Bestari memberi pelatihan. Kini, tak sedikit warganya beralih pekerjaan. Mereka meninggalkan aktivitas ilegal, seperti berburu satwa liar.

“Turun sampai 60%-80%. Masyarakat sudah mulai memikirkan mata pencaharian yang berkelanjutan,” ujar Ahim.

Ubah Pola Pikir

Pihaknya terus mensosialisasikan bahaya perambahan dan perburuan liar. Menggandeng Bestari dan lembaga lain, mereka melatih masyarakat setempat untuk meningkatkan kapasitas.

“Tidak ada tolok ukur yang jelas. Setiap tahapan kami laksanakan agar masyarakat beralih mata pencariannya. Misal, melalui kerja sama dalam pelatihan ekonomi kreatif, seperti KTH, KSU, Sekolah Tani Budi Daya Lanceng,” katanya.

Pelatihan peningkatan sumber daya manusia dinilai mampu mengurangi perambahan hutan dan perburuan satwa liar. Selain itu, mereka juga mengarahkan warga untuk mengelola pariwisata di Suoh, seperti di wisata Keramikan, Danau Lebar dan lainnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengubah pola pikir masyarakat dengan pendekatan agama. Misal, mengadakan Dai Konservasi. Langkah tersebut sebagai upaya untuk menyentuh hati warga agar tidak merambah dan berburu.

“Ada yang gak mempan sehingga disentuh melalui ideologi. Kebetulan di sini mayoritas agama Islam, di mana sudah dipelajari peringatan untuk menjaga alam,” ucap Ahim.

Biasanya, Dai Konservasi dilaksanakan saat pengajian. Bagi ibu-ibu pada Kamis. Sedangkan jadwal kaum bapak pada Jumat. Adapun membaca Yasin rutin dilakukan.

Ihwal peraturan pekon mengenai perburuan satwa liar, Ahim bilang, “Kami lakukan sosialisasi secara lisan bahwa kegiatan itu dilarang. Kemudian, kerja sama dengan Bestari tentang imbauan.”

Pendampingan

Dalam upaya menekan perburuan dan perambahan, Bestari memberi pendampingan kepada masyarakat melalui berbagai program penghidupan berkelanjutan. Beberapa di antaranya pendampingan kelompok tani hutan, pendampingan kelompok tani pembibitan, dan pendampingan kelompok tani organik.

Pendampingan kelompok tani hutan lebih menekankan warga tidak memperluas perambahan dan perburuan di kawasan TNBBS. Jadi, Bestari mengarahkan para warga agar membudidayakan madu lanceng di rumah masing-masing.

“Bagi kelompok tani pembibitan, kami memberi pembekalan kepada masyarakat pentingnya menanam tumbuhan bertajuk tinggi di taman nasional. Jadi, kami sosialisasikan untuk mulai menanam kakao, alpukat, durian. Yang jelas tanaman tajuk tinggi,” kata Sutardi, Community Fasilitator Bestari Sukamarga.

Hal tersebut untuk menjaga kandungan air dalam tanah. Tujuannya, agar tidak terjadi kekeringan atau banjir pada kemudian hari.

“Kalau tanaman bertajuk tinggi itu banyak resapan airnya. Saat ini, masih banyak warga setempat menanam pohon bertajuk rendah,” ujarnya.

Bestari terus memantau warga binaan dalam kelompok tani pembibitan. Beberapa mulai menanam pohon tajuk tinggi. Sejauh ini, belum ada pohon kayu di TNBBS. Kebanyakan tanaman kopi yang berfungsi sebagai sarana konservasi tanah dan air.

“Kami juga mendampingi kelompok tani organik. Tujuannya satu, mendorong petani mengembalikan fungsi tanah seperti unsur hara dan kesuburannya,” kata Sutardi.

Sementara itu, Dai Konservasi lebih mengarahkan masyarakat tidak merambah dan memburu satwa. Caranya, memberi pemahaman ihwal pentingnya menjaga alam lewat dakwah. Penyampaian dakwah melalui pengajian yang dihadiri para warga setempat.

“Ada dua Dai Konservasi di Pekon Sukamarga. Keduanya, Madyanto Saiful dan Rahmad Hidayat,” kata Hadrin, fasilitator pembentukan Dai Konservasi.(*)

Hanif Mustafa, jurnalis Tribun Lampung

Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung-Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di Tribun Lampung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed