oleh

Bagaimana Seharusnya Media Meliput Isu HKSR?

Sugesti Aprilia | Program Manager Explore For Action PKBI Lampung | Mantan Jurnalis

APA yang Anda pikirkan ketika membaca judul-judul berita ini:

“Politisi PKS Sebut 70 Persen Siswi di Depok Tidak Perawan Lagi, Simak Ciri-Ciri Wanita Tidak Perawan” – Wartakotalive.com, 24 Desember 2020.

“Sudah Berbulan-bulan Pisah dari Jerinx, Kehidupan Seks Nora Alexandra Dipertanyakan Netizen. Duh Terus Jawab Apa Nora?” – detikcom, Februari 2021.

“Janda Cianjur Hamil Tanpa Hubungan Seks: Angin Kencang Masuk Vagina Saya” – suarabogor.id, 13 Februari 2021.

Dua dari tiga berita tersebut telah dikoreksi dan dicabut. Saya bukan ingin mengungkit kesalahan, tetapi menyoal kepekaan media. Ketiga berita di atas tidak sensitif gender. Keperawanan, kehidupan seks individu, dan penggunaan diksi “janda” kurang tepat.

Selain tidak pantas, berita-berita tersebut dapat memunculkan stigma yang merendahkan perempuan. Bahkan, bisa membentuk opini publik untuk melihat perempuan sebagai objek. Perempuan dinilai dari kehidupan seksualitas dan reproduksinya saja. Ini hanya satu contoh dari banyak pemberitaan yang tidak ramah gender, korban kekerasan dan pelecehan seksual, serta kelompok minoritas lainnya.

Media punya peran besar dalam memengaruhi pengambil kebijakan dan masyarakat. Berpijak dari logika tersebut, media seyogianya menjadi ruang bagi suara-suara yang tidak terdengar. Namun, sampai saat ini, saya rasa tidak banyak media yang menjadi ruang aman bagi teman-teman minoritas. Tiga contoh pemberitaan di atas mengafirmasi bahwa media tidak menjalankan perannya secara baik.

Inilah mengapa penting bagi jurnalis untuk memahami dan lebih sensitif ihwal isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Dengan memahami dan peka, jurnalis tidak hanya dapat memberikan informasi yang tepat dan komprehensif, tapi juga memakai diksi yang lebih ramah gender. Sehingga, media dapat memainkan perannya di ruang publik dalam mendorong pemenuhan HKSR perempuan, remaja, dan kelompok minoritas lainnya.

Ketika meliput isu HKSR, media perlu mengedepankan rasa kepatutan dan penghargaan yang tinggi terhadap martabat manusia. Hal itu dengan mempertimbangkan dampak dari sebuah karya jurnalistik.

Beberapa hal penting yang perlu dimiliki jurnalis dalam menjalankan kerja-kerja jurnalisme terkait isu HKSR, sebagai berikut:

Prapeliputan

  1. Berkomitmen tidak melibatkan keyakinan pribadi, sentimen etnis dan budaya yang dapat menyebabkan bias dalam menampilkan fakta terkait isu HKSR. Menggunakan nilai profesional dalam peliputan berita;
  2. Mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari meliput hal-hal atau peristiwa konflik seputar HKSR remaja yang menyangkut kepentingan pribadinya, atau kelompok yang dikenal baik untuk menghindari konflik kepentingan (conflict of interest);
  3. Mempelajari latar belakang persoalan atau peristiwa yang berkaitan dengan HKSR;
  4. Mempersiapkan kerangka peliputan yang menghormati dan mempromosikan hak-hak seksual dan reproduksi kelompok minoritas.

Peliputan

  1. Mengedepankan peliputan yang mempromosikan HKSR kelompok minoritas;
  2. Tidak mendorong pihak-pihak untuk melakukan diskriminasi dan kekerasan berbasis seksual dan gender;
  3. Tidak memunculkan kata-kata yang melecehkan dan menstigma secara seksual dan gender, pemilihan diksi yang tepat perlu dipahami jurnalis dalam melakukan peliputan;
  4. Memilih narasumber yang lebih beragam. Tidak hanya aparat dan pejabat, tapi juga ahli/akademisi yang memahami masalah tersebut dengan jernih. Mengutamakan suara korban dan narasumber relevan yang memahami isu HKSR. Kemudian, menghindari narasumber yang tidak memiliki kompetensi terkait isu HKSR kelompok minoritas;
  5. Mewawancarai korban, saksi, dan pelaku kalangan remaja. Pada remaja usia anak-anak 10-18 tahun + 1 hari, perlu memerhatikan persetujuan dari orang dewasa atau pendamping yang dipercaya anak (by consent atau kesediaan);
  6. Tidak mewawancarai narasumber dengan stereotip yang menyudutkan secara seksual dan gender. Terutama, bila didasarkan pada sentimen keyakinan pribadi dan budaya primordial;
  7. Bersikap kritis terhadap setiap pernyataan narasumber dengan merujuk pada prinsip HAM, HKSR kelompok minoritas, dan norma hukum yang berlaku.

Publikasi berita

  1. Mengembangkan pemberitaan HKSR kelompok minoritas dengan berperspektif positif dan adil gender;
  2. Memberitakan peristiwa dengan jujur dan benar;
  3. Tidak menyebarkan prasangka dan generalisasi yang merendahkan kelompok berbasis seksual dan gender;
  4. Mengutamakan prinsip kehati-hatian dan sensitif dalam pemberitaan seputar HKSR kelompok minoritas, jauh dari stereotip atau stigma berbasis seksual dan gender;
  5. Memilih kata (diksi) yang adil dan menghormati HKSR kelompok minoritas. Tidak menggunakan kata (diksi), istilah, dan kutipan langsung yang menyulut kebencian berbasis seksual dan gender;
  6. Tidak menggiring atau mengarahkan fakta yang berpotensi menimbulkan trauma yang dapat merusak masa depan remaja;
  7. Tidak menampilkan pernyataan narasumber yang menjustifikasi diskriminasi dan kekerasan berbasis seksual dan gender;
  8. Tidak menimpakan kesalahan kepada korban yang masih remaja;
  9. Memberi ruang pemberitaan yang lebih besar pada korban tanpa intensi eksploitasi. Semata menyuarakan kepentingan korban untuk mendapatkan keadilan;
  10. Tidak mengeksploitasi korban, saksi, dan pelaku remaja usia anak dengan menampilkan wajah, identitas, keluarga dan informasi-informasi yang merugikan hak-hak anak;
  11. Tidak menampilkan foto, video, audio dan grafis yang sensasional secara seksual, mengandung kekerasan dan menimbulkan trauma (darah, jenazah, kekejian, dll.), maupun yang melanggengkan stereotip dan stigma terhadap kelompok minoritas;
  12. Tidak menayangkan siaran langsung (live report) peristiwa konflik seputar seksualitas dan gender secara vulgar.

Pascapenayangan

Segera melakukan koreksi dan ralat secara proporsional jika wartawan atau media mengetahui terjadi kesalahan dalam pemberitaan sebelumnya.(*)


Referensi

Ardhanary Institute, 2019. Panduan Liputan HKSR Remaja Ragam Identitas. Jakarta: Aliansi Satu Visi.

Politisi PKS Sebut 70 Persen Siswi di Depok Tidak Perawan Lagi, Komnas PA: Data Lima Tahun Lalu. (https://wartakota.tribunnews.com/2020/12/24/politisi-pks-sebut-70-persen-siswi-di-depok-tidak-perawan-lagi-simak-ciri-ciri-wanita-tidak-perawan?page=all). Konten artikel ini mengalami perubahan.

Permintaan Maaf detikcom kepada Nora Alexandra. (https://hot.detik.com/celeb/d-5370157/permintaan-maaf-detikcom-kepada-nora-alexandra). Detik meminta maaf terkait berita “Sudah Berbulan-bulan Pisah dari Jerinx, Kehidupan Seks Nora Alexandra Dipertanyakan Netizen. Duh Terus Jawab Apa Nora?” Detik kemudian menghapus berita tersebut.

Cerita Janda Cianjur Hamil Tanpa Hubungan Seks, Lengkap Penjelasan Ilmiah. (https://bogor.suara.com/read/2021/02/13/115629/janda-cianjur-hamil-tanpa-hubungan-seks-angin-kencang-masuk-vagina-saya). Redaksi Suara mengubah judul berita itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed