oleh

Sentralisasi Media dan Kepentingan Publik

-Pendapat-187 views

Chairul Rahman Arif | Jurnalis Lepas | Pemimpin Umum UKPM Teknokra 2020

SAYA sedang rebahan usai menjalani aktivitas, Rabu malam, 6 Oktober 2021. Sembari membuang lelah, saya membuka Twitter dan menemukan tagar (#) menarik. Tagar #percumalaporpolisi menempati posisi pertama trending topic. Artinya, persoalan dalam tagar itu sedang banyak dibicarakan pengguna Twitter.

Kemunculan tagar ini dipicu laporan jurnalistik Project Multatuli ihwal kasus pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Reportase itu mengungkap soal dugaan pemerkosaan oleh seorang aparatur sipil negara terhadap ketiga anak kandungnya yang masih di bawah umur. Berdasar laporan Project Multatuli, Lydia (bukan nama sebenarnya), mantan istri terduga pelaku, telah melaporkan kasus tersebut, tetapi polisi justru menghentikan penyelidikan.

Saya butuh waktu untuk membaca sampai habis laporan tersebut. Sebab, saya harus menata perasaan yang berantakan ketika membaca paragraf per paragraf laporan itu. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin ada seorang ayah yang tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Mungkin bukan saya saja yang mengalami perasaan tidak nyaman ini (marah, sedih, dan ikut putus asa) dampak dari membaca laporan itu.

Buntut dari laporan tersebut, warganet menumpahkan kekesalannya dalam cuitan di Twitter bertagar #percumalaporpolisi. Bahkan, tak sedikit warganet turut membagikan pengalamannya melaporkan kasus, tetapi tidak ditangani dengan baik.

Seperti kasus salah satu warganet yang saya kutip dari Radar Tegal. Ia menceritakan soal kecelakaan di jalan raya yang dialami keponakannya, tetapi tak menemukan titik terang. “Ponakan kecelakaan di jalan raya, dilaporin polisi bukan masalah selesai malah tambah masalah. Sabar dan ikhlas bila berhadapan dengan polisi, bro. Itu wajib,” tulis akun Twitter @Aro***.

Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa didapat dari trending topic dan liputan yang dirilis 6 Oktober lalu itu. Pertama, ini merupakan kabar baik terkait kerja-kerja jurnalistik yang mulai mendapatkan kepercayaan publik.

Kerja jurnalistik yang punya komitmen berpihak pada kepentingan warga negara, seperti liputan Project Multatuli, perlu diapresiasi. Terlebih, hal tersebut memberikan atensi khalayak untuk mendesak instansi terkait segera berbenah.

Dalam karya ilmiahnya berjudul “Jurnalisme dan Kepentingan Publik”, Sintje A Rondonuwu menyatakan bahwa jurnalisme yang dibuat demi kepentingan seseorang atau kelompok, maka jurnalisme sedang dalam bahaya. Itu dapat mematikan jurnalisme yang pada prinsipnya adalah menyampaikan kebenaran. Loyalitasnya harus berada pada para warga.

Media siber perlu mengedepankan hal tersebut. Sebab, berdasar riset Dewan Pers pada 2019, secara umum, media siber lebih ‘kurang dipercaya’ dibanding media arus utama lain, seperti media cetak, televisi, dan radio.

Momentum ini sepatutnya menjadi titik balik media siber untuk dapat lebih dipercaya dengan terus menyajikan konten-konten berkualitas. Tidak sekadar memproduksi berita untuk mendulang klik dengan dibumbui judul-judul bombastis. Perilaku yang seharusnya ditinggalkan karena justru dapat memperburuk kualitas produk jurnalisme dan menurunkan kepercayaan publik terhadap media.

Hal lain yang dapat dilihat dari liputan ini adalah soal sentralisasi media. Sebenarnya, kejadian dalam liputan di Luwu Timur mirip peristiwa di Lampung. Anda dapat membaca laporan konsentris.id.

Laporan tersebut bercerita tentang pemerkosaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan tidak mendapatkan keadilan. Padahal, terdapat sejumlah bukti, bahkan polisi mengantongi identitas pelaku. Kisah ODGJ yang diperkosa itu sama mirisnya dengan apa yang terjadi di Luwu Timur.

Tampaknya kedua liputan tersebut, atau liputan lain terkait pemerkosaan, tantangannya adalah mendapatkan kepercayaan dari narasumber. Tak mudah bagi seseorang atau keluarga yang pernah mengalami pemerkosaan untuk bercerita mengenai apa yang pernah dialami. Maka, kedua liputan tadi perlu diapresiasi karena dua hal: keberpihakannya kepada penyintas kekerasan seksual, dan kegigihan jurnalis dalam mendapatkan kepercayaan dari sumber untuk memberikan keterangan.

Namun sayang, kerja-kerja jurnalistik Konsentris tidak mendapatkan atensi publik sebesar Project Multatuli. Saya melihat ini sebagai akibat dari sentralisasi media.

Menurut KBBI, sentralisasi adalah penyatuan segala sesuatu ke suatu tempat yang dianggap sebagai pusat. Hal ini merujuk ke salah satu daerah di Indonesia, yaitu Jakarta. Terlebih, Jakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus pusat perekonomian Indonesia.

Riset Remotivi, organisasi pemantau media, yang berjudul ‘Melipat Indonesia dalam Berita Televisi: Kritik atas Sentralisasi Penyiaran’ memperlihatkan bahwa berita televisi kita sebanyak 41% didominasi berita tentang Jabodetabek. Sementara, daerah lain di luar Jabodetabek yang banyak diliput televisi adalah Jawa Timur (9,1%), Jawa Barat (6,2%), Jawa Tengah (4,6%), Sulawesi Selatan (4,6%), dan Bali (1,9%). Riset ini juga mengungkapkan penyematan “nasional” dalam siaran televisi Jakarta mempunyai nuansa yang problematik. Sebab, berita “nasional” selalu dikaitkan dengan berita tentang Jakarta.

Sentralisasi media tidak hanya terjadi di televisi, tetapi juga di media arus utama lain. Banyak media besar yang berkantor di Jakarta.

Tanpa disadari, ini jadi menanamkan pola pikir bahwa apa yang diberitakan media “nasional” lebih punya posisi dibanding media-media di daerah. Dampak yang ditimbulkan dari media “nasional” pun dinilai lebih besar. Hal ini problematik karena tak semua isu daerah bisa dikover media di Jakarta. Terlebih dalam beberapa kasus, berdasarkan kicauan di Twitter, polisi biasanya bergerak lebh cepat ketika kasusnya ramai dibicarakan.

Maka, dari tagar #percumalaporpolisi, saya menyadari bahwa sudah sepatutnya media dan jurnalis yang punya integritas diberi dukungan ketika berusaha berpihak kepada publik. Kemudian, kritik terhadap Polri yang tengah ramai hendaknya diterima dan menjadi evaluasi. Bukan justru berujung pada intimidasi dan peretasan.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed