oleh

SP Sebay Lampung Kecam Perampasan Sumber Kehidupan Perempuan Wadas

BANDAR LAMPUNG – Solidaritas Perempuan (SP) Sebay Lampung mengecam kekerasan dan perampasan sumber kehidupan perempuan di Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ribuan anggota kepolisian masuk ke Desa Wadas dengan senjata lengkap, kemarin.

“Kehadiran mereka menimbulkan goncangan dan trauma bagi warga. Terlebih, dengan penangkapan setidaknya 60 warga dan pendamping, tiga di antaranya adalah perempuan,” kata Ketua SP Sebay Lampung Armayanti Sanusi melalui siaran pers, Rabu, 9/2/2022.

Armayanti mengatakan, polisi menurunkan banner protes penolakan tambang batu andesit yang menjadi ekspresi perlawanan warga. Mereka juga sempat mengambil paksa alat pertanian dan pisau-pisau yang biasa digunakan untuk menganyam besek.

“Hingga hari ini, kami terus koordinasi dengan teman-teman di lokasi, dalam hal ini Solidaritas Perempuan Kinasih Yogjakarta. Informasi yang kami dapatkan, masyarakat tidak berani keluar rumah, mengambil video, maupun gambar karena diawasi oleh polisi dengan ketat hingga semalam,” ujarnya.

Solidaritas Perempuan Sebay Lampung mendukung perjuangan masyarakat dan perempuan di Wadas untuk menyelamatkan ruang hidup dan sumber penghidupan.  Penolakan masyarakat Wadas, terutama perempuan, atas penambangan Bendungan Bener dimulai sejak 2015, Bagi mereka, tanah adalah ibu, darah daging mereka: sumber kebahagiaan, sumber keselamatan dan sumber kebijaksanaan hidup. Maka, proyek penambangan batuan andesit dan Bendungan Bener akan menjadi petaka.

Menganyam besek menjadi simbol perlawanan perempuan yang bertekad mempertahankan vegetasi bambu yang terancam proyek penambangan. Menganyam juga mencerminkan tradisi yang dijaga oleh perempuan Wadas dalam merajut kebersamaan dan perjuangan merawat alam, termasuk menjaga ketersediaan air. Kehadiran aparat di Wadas menunjukkan bahwa negara tidak hadir untuk pemenuhan hak dan kesejahteraan warganya, melainkan untuk merampas kehidupan warga.

“Tindakan Represif dan kekerasan oleh negara terhadap rakyat dalam mempertahankan ruang penghidupannya sangat mungkin akan terus terjadi di wilayah Indonesia, termasuk Lampung. Itu mengingat program starategis nasional masih gencar dilakukan oleh pemerintah, sehingga saya rasa harus memperkuat konsolidasi gerakan rakyat untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan rakyat atas penghidupan,” kata Armayanti.

Untuk itu, SP Sebay Lampung mendesak agar:

  1. Hentikan intimidasi dan kekerasan di desa Wadas dan kembalikan barang milik warga yang dirampas paksa oleh polisi;
  2. Tarik mundur pasukan Polri dari Desa Wadas;
  3. Bebaskan warga dan pendamping yang ditangkap paksa oleh Polsek Bener;
  4. Hentikan pengukuran tanah yang dilakukan oleh tim pengukur dari Kantor Pertanahan Purworejo dan rencana pertambangan di Desa Wadas;
  5. Pemulihan trauma warga, terutama perempuan dan anak-anak.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed