oleh

Edukasi-Pelatihan, Cara Bestari Ajak Warga Tak Rambah Hutan

LAHAN pertanian di Dusun Sukaraja, Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. | Andi Apriyadi

LAMPUNG BARAT – Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dikenal juga sebagai Taman Nasional Hutan Hujan Tropis Sumatra. Keberadaannya terbilang penting karena berfungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan jenis tumbuhan, dan satwa liar beserta ekosistemnya.

Guna menjaga fungsi tersebut, Bestari, sebuah konsorsium yang terdiri dari lembaga peduli lingkungan, memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada warga Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Desa ini berbatasan langsung dengan TNBBS. Adapun tujuan pendampingan dan penyuluhan itu mengurangi aktivitas warga setempat membuka lahan yang dapat menurunkan fungsi TNBBS.

“Soal perambah hutan di TNBBS, kami meningkatkan kemampuan mereka mengelola pertanian untuk memperbaiki ekosistem di sini. Ada beberapa kelompok di bawah naungan Bestari. Sebagian dari mereka mantan perambah hutan TNBBS,” kata Sutardi, Comunity Fasilitator Bestari, di Sukamarga, Selasa, 22 Desember 2020.

Baca juga: Pertobatan Abudin, dari Merambah Hutan Kini Budi Daya Madu Lanceng

Kendati demikian, Sutardi tak menampik bahwa masih terdapat warga yang berkebun di kawasan TNBBS. Namun, dia menyebut jumlahnya mengalami penyusutan.

“Saat ini, warga yang tidak lagi merambah sekitar 70%. Beberapa masih berkebun di TNBBS. Karena itu, kami bekerja sama dengan pihak TNBBS untuk pemulihan ekosistem,” ujarnya.

Sutardi mengatakan, pihaknya membentuk beberapa kelompok untuk mengajak masyarakat tidak membuka lahan di kawasan konservasi hutan. Misal, Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Ampar Lestari, Kelompok Simpan Usaha (KSU), Kelompok Pembibitan Andan Jejama, Kelompok Petani Organik (KPO), dan Dai Konservasi.

Ihwal memperbaiki tanah dan kesehatan masyarakat, Bestari melatih petani setempat memproduksi beras organik. Selama ini, mereka masih menggunakan pupuk yang kadar kimianya cukup tinggi.

“Pupuk organik, yakni kompos terbuat dari kotoran sapi, daun gamal, gedebok. Kemudian, disemprot mol dan difermentasi 21 hari. Pupuk organik cair (POC) terbuat dari urine sapi, air cucian beras, daun gamal dan mol. Sedangkan mol terbuat dari bakteri dari akar bambu,” kata dia.

Senada dengan Sutardi, Kepala TNBBS Resort Suoh Sulki juga menyatakan bahwa perambahan dan pembalakan liar di kawasan TNBBS mengalami penurunan. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada warga yang membuka lahan dengan merambah hutan.

Menurut Sulki, penurunan perambahan hutan di antaranya karena sinergisme. Pihaknya bersama aparat desa/pekon kerap mensosialisasikan bahaya merusak ekosistem hutan.

“Sehingga, menyadarkan warga mengurangi perambahan dan pembalakan liar di kawasan TNBBS,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Sukamarga Ahim Abdiani mengapresiasi program Bestari yang memberi pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan. Pihaknya bekerja sama dengan lembaga lain relatif sering mengadakan pelatihan soal pertanian bagi masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan sumber daya manusia.

“Tahapan saat ini, kami sudah laksanakan pelatihan ekonomi kreatif seperti kelompok usaha, budi daya madu lanceng dan sebagainya. Melalui pelatihan tersebut, kami berharap warga tidak merambah hutan,” ujar Ahim.(*)

Andi Apriyadi, jurnalis Lampung Post

Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung-Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di Lampost.co.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed