oleh

Cerita Potensi Pekon Margomulyo, Berjibaku dengan Infrastruktur

TANGGAMUS – Langit di atas Pekon Margomulyo terlihat sendu. Awan hitam memayungi sejak pagi. Hujan terus mengguyur pekon yang berada di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus tersebut.

Suara bising knalpot sepeda motor membelah rintik air hujan, Sabtu (19/12/2020) petang. Gumpalan tanah ikut terlempar seiring roda sepeda motor yang berputar di tempat.

“Tenang aja, Mas. Jangan panik, jangan banyak gerak,” kata sang pengendara sepeda motor bernama Prasetyo tersebut.

Kedua tangannya lalu memegang erat stang sepeda motor. Menggeber gas lebih dalam. Namun, sepeda motor tak juga melaju. Bergeming seolah tertanam di dalam tanah.

Jalan menuju Pekon Margomulyo itu masih berupa tanah liat. Perlu perjuangan panjang untuk menuju ke pekon tersebut. Terlebih jika turun hujan, jalan serasa adonan kue. Lembek.

Jalan selebar tiga meter itu terlihat pulen karena tersiram air hujan.

“Pertempuran” belum usai meski laju sepeda motor bisa terbantu dengan lilitan rantai pada roda.

Kontur jalan tidak dalam kondisi datar, melainkan penuh turunan curam dan tanjakan yang tinggi.

Prasetyo yang sehari-hari sudah kenyang “makan” jalan tanah itu pun harus selalu tetap waspada dan menjaga keseimbangan. Sesekali kakinya menyentuh tanah agar tidak terguling.

“Turun sebentar ya, Mas. Ini jalannya susah, paling cuma 20 meter saja,” kata Prasetyo.

Prasetyo yang telah lama menjadi pengojek di jalan itu mengatakan, rantai adalah “aksesoris” wajib dimiliki setiap pengojek. Lilitan rantai di roda belakang membuat sepeda motor mampu melaju di tanah licin.

Meski harus berjibaku, kondisi jalan yang buruk itu menjadi ladang rezeki bagi Prasteyo dan pengojek lain.

“Jalan seperti ini rejeki bagi jasa ojek. Gimana lho, kalau ngojek batang itu satu kilonya 500 perak,” kata Prasetiyo sambil terkekeh.

Jalan sepanjang 9 kilometer tersebut adalah jalan poros dibawah kewenangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus.

Jalan ini membelah kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di sebelah kanan, dan jurang curam di sebelah kiri.

“Keren kan, Mas, pemandangannya,” kata Prasetyo seakan menghibur setelah melalui beratnya perjalanan di jalan tanah sebelumnya.

Sekitar 30 menit perjalanan dari jalan poros jalan lintas nasional TNBBS, rumah penduduk mulai terlihat.

Jarak antar rumah sekitar 50 meter dengan konstruksi bervariasi, mulai dari permanen hingga berdinding geribik.

Mendekati pekon, tiang listrik terlihat berjajar di sebelah sisi kiri jalan dengan jarak tertata rapi. Bohlam neon berwarna putih masih tergantung pada tiang tersebut. Namun, semua lampu sepanjang jalan di Pekon Margomulyo ini sudah tidak hidup lagi.

“Lampu nya itu sudah nggak fungsi, Oom, itu yang membuat pemerintah,” kata Prasetyo.

SEKRETARIS Pekon Margomulyo, Binarno menunjukan lokasi yang berpotensi sebagai objek wisata alam lepas di pekon tersebut. (Agus Susanto/Kupas Tuntas)

Jalan rusak dan tidak ada listrik
Pekon Margomulyo memiliki luas 8 kilometer persegi yang berbatasan langsung dengan hutan TNBBS.

Sekretaris Pekon Margomulyo, Binarno mengatakan, potensi ekonomi mencakup hasil bumi dan objek wisata alam.

Sumber pendapatan warga rata-rata berladang buah pala dengan hasil panen di atas 2 kuintal perhari. Harga buah pala kering dari petani mencapai Rp35.000 perkilo. Sedangkan hasil bumi lain yakni lada, kopi, dan durian.

Namun, pendistribusian hasil panen ini terbentur dengan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan. Begitu juga dengan listrik yang belum masuk pekon.

“Dua hal itu yang paling utama kami keluhkan, karena menjadi penghambat majunya perekonomian masyarakat. Warga sangat kesusahan untuk mengeluarkan hasil panen nya, sehingga harus mengeluarkan upah tambahan untuk jasa ojek,” kata Binarno.

Binarno mengatakan, Pekon Margomulyo pernah mendapatkan bantuan listrik tenaga surya dari pemerintah sekitar tiga tahun lalu.

“Baru enam bulan rusak, sekarang kami menggunakan alat penerangan pribadi, ada yang menggunakan tenaga surya ada yang menggunakan genset,” kata Binarno.

Potensi wisata alam desa penyangga hutan
Sebagai desa penyangga hutan TNBBS, Pekon Margomulyo memiliki banyak potensi wisata, seperti hamparan gunung bukit dan laut yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari pekon.

Pendamping Pekon Margomulyo, Joko mengungkapkan, konflik dengan satwa liar seperti gajah pun bisa dijadikan objek wisata alam.

“Warga kalau lagi ngusir gajah liar itu ramai membawa peralatan kentongan dan petasan, dengan suasana di pinggir hutan tentu cukup asyik bagi mereka yang jarang melihat gajah dengan momen tersebut,” kata Joko.

Menurut Joko, jika wisata alam di pekon ini bisa berjalan, maka akan memberikan efek berantai ke masyarakat. Misalnya, kuliner dan homestay.

Namun, semua itu terkendala dengan kondisi jalan yang begitu buruk.

Joko mengungkapkan, jangankan orang dari luar daerah, warga asli Pekon Margomulyo sendiri pun kesusahan jika sudah melintasi jalan poros sepanjang 9 kilometer itu.

“jika infratruktur jalan diperbaiki dan ada penerangan listrik, maka ekonomi Pekon Margomulyo akan meningkat,” kata Joko.

Kaum ibu bantu geliat perekonomian pekon
Minim nya sumberdaya manusia di Pekon Margomulyo, khususnya kaum ibu membuat rekanan konservasi TNBBS yakni BESTARI, sebagai pendamping warga penyangga hutan, harus berjuang mengembangkan kapasitas kaum ibu penghuni Pekon Margomulyo.

Dartini, salah satu kaum ibu mengatakan, sebelum BESTARI masuk ke Pekon Margomulyo memberikan pendampingan, usaha yang dilakoni kaum ibu ini kembang kempis, terutama soal modal dan akses ekonomi yang tidak dipahami.

Dartini mengungkapkan, BESTARI banyak memberikan perubahan terutama dalam cara berfikir tentang perekonomian, seperti dengan tercetusnya program kelompok simpan usaha (KSU), sangat membantu masyarakat penyangga hutan TNBBS di Pekon Margomulyo.

“Dulu sebelum ada KSU kami kesusahan untuk cari modal usaha,” kata Dartini.

KSU ini sudah dua tahun berdiri dengan sistem memberikan pinjaman modal warga, khususnya kaum ibu tanpa anggunan. Sumber dana tersebut berasal dari sejumlah kelompok KSU, peminjam hanya diberi beban bunga dua persen dari jumlah pinjaman.

“Memang tidak ada jaminan apapun, namun kalau pinjamnya di atas Rp3 juta, peminjam harus menyertakan materai dan harus diketahui suaminya untuk kelengkapan berita acara peminjaman. Kalau di bawah Rp3 juta hanya menyertakan foto kopi KTP saja,” beber Dartini.

Dartini menambahkan, KSU juga menyediakan pinjaman usaha dengan sistim bagi hasil. Sistem ini banyak dimanfaatkan oleh sejumlah pelaku usaha seperti pembuatan kopi bubuk, penjahit dan pedagang kelontongan.

KEPALA Balai TNBBS Ismanto menujukkan peta kondisi taman nasional tersebut di ruang kerjanya, Sabtu (19/12/2020). Pihak saat ini berusaha merangkul warga dari desa penyangga untuk ikut membantu konservasi di TNBBS. (Agus Susanto/Kupas Tuntas)

Jalan panjang menuju harmonisme dengan alam
Bertahun-tahun lalu, warga Pekon Margomulyo belum ramah dengan hutan dan satwa liar yang ada di dalam kawasan TNBBS. Masih banyak ditemukan perburuan dan penebangan kayu.

Namun setelah adanya program pembinaan daerah penyangga, seiring waktu warga mulai bisa berbagi ruang dengan satwa liar, terutama gajah.

Kepala Balai TNBBS, Ismanto mengatakan, buntut dengan kegiatan di dalam kawasan itu, sebelum tahun 2014 warga sama sekali tidak mau “dekat” dengan polisi hutan (polhut).

“Mungkin karena warga merasa salah sering masuk ke hutan sehingga kurang suka dengan anggota polhut. Tetapi, sekarang sudah harmonis,” kata Ismanto.

Perubahan paradigma kepada warga pun terus dilakukan hingga sekarang, baik itu dari mitra konservasi maupun instansi setempat untuk mengubah perilaku perburuan hingga perusakan hutan.

Sebuah program pemulihan ekosistem hutan pun dijalankan, misalnya kawasan yang telah ditanami kopi diminta untuk juga menanam tanaman hutan di sela tanaman kopi itu.

“Kami tidak sekaligus melakukan tindakan yang terlalu tegas, perlu pendekatan ciptakan dulu hubungan yang harmonis kepada warga penyangga,” kata Ismanto.

Ismanto menambahkan, sebenarnya Pekon Margomulyo ini memiliki potensi besar akses ekonomi dengan manfaatkan geografis desa yang berdekatan langsung dengan hutan TNBBS.

“Ada pemandangan alam lepas dan konflik gajah liar pun bisa dijadikan paket wisata dan masih banyak objek wisata lain yang akan kami kembangkan,” kata Ismanto.

Dengan banyaknya objek wisata yang bisa dipasarkan di sekitar Desa Margomulyo, warga setempat bisa memanfaatkan untuk membangun akses ekonomi mereka melalui penjualan makanan, berbagai kuliner dan menyediakan homestay.

Bahkan, kopi bubuk hasil tanam warga bahkan bisa dijadikan sebagai kuliner khas Pekon Margomulyo.

“Potensi ekonomi warga Margomulyo cukup banyak, dan kami saat ini lagi fokus untuk memenangkan wisata di TNBBS,” kata Ismanto.

Terkait konflik dengan gajah, Ismanto mengatakan, pihak balai sudah memasang dua GPS terhadap dua kelompok gajah liar untuk memantau keberadaan gajah liar jika hendak keluar hutan.

GPS bisa mendeteksi keberadaan gajah, sehingga ketika gajah mendekat dengan jarak 5 kilometer dari pemukiman, warga dan polhut sudah bisa bersiaga untuk mengusir satwa tambun itu.

“Biasanya kami mengusir gajah dengan membunyikan petasan dan menciptakan bunyi bunyian dari kentongan bambu,” kata Ismanto. (*)

———————————————-
Agus Susanto, jurnalis Kupas Tuntas

Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung – Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di Kupas Tuntas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed