oleh

‘Ekonomi Hijau’ dari Margomulyo

TANGGAMUS – Jalan menuju Desa Margomulyo masih tanah merah. Hujan sejak pagi hingga siang membuat badan jalan penuh lumpur. Licin. Bila tak hati-hati bisa tergelincir.

Desa ini terletak di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Lokasinya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Itulah mengapa Desa Margomulyo juga disebut desa penyangga TNBBS.

Tetapi, bukan perkara mudah masuk Desa Margomulyo. Akses masuk di samping Kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Semaka tidak dapat dilalui mobil. Hanya sepeda motor dengan ban berbalut rantai yang mampu menapaki medan ekstrem tersebut.

“Sepanjang tahun ini, enggak ada musim kemarau di sini. Jalanan licin karena hujan hampir setiap hari,” kata Jubaidi, polisi kehutanan, sambil mengemudikan sepeda motor, Sabtu, 19 Desember 2020.

Jarak tempuh dari kantor taman nasional ke Desa Margomulyo sekitar 7 Km. Selain licin dan berlumpur, jalan menuju desa tampak berbahaya. Di sebelah kiri jurang, sebelah kanan TNBBS. Jubaidi tampak piawai melalui medan berat itu, meski beberapa kali sepeda motor yang dikendarainya nyaris tergelincir. Dengan kecepatan 10 Km per jam, butuh waktu sekitar 20 menit tiba di desa tersebut.

Baca juga: Cerita Potensi Pekon Margomulyo, Berjibaku dengan Infrastruktur

Desa Margomulyo belum mengalir listrik. Penduduknya tercatat 236 kepala keluarga. Sebagian besar dari mereka hidup dengan berkebun. Namun, buruknya akses jalan keluar-masuk desa membuat perekonomian warga sulit berkembang. Infrastruktur menjadi kunci geliat ekonomi di sana.

“Warga sangat produktif, tapi mereka kerepotan untuk distribusi hingga pemasaran,” ujar Jubaidi.

Dahulu, karakter warga Desa Margomulyo tidak seperti sekarang. Sepuluh tahun lalu, mereka cenderung tertutup. Terlebih, ketika banyak dari mereka merambah hutan TNBBS. Lambat laun masyarakat setempat berubah.

Perubahan itu bukan tanpa proses. Apalagi, warga punya pandangan negatif terhadap polisi kehutanan. Perlu pendekatan secara kekeluargaan untuk mengubah pola pikir tersebut. Sehingga, mereka mau menjalankan imbauan-imbauan untuk menjaga pelestarian TNBBS.

“Sebagai polisi kehutanan di desa penyangga, saya sampai menginap di rumah-rumah warga untuk membangun kedekatan emosional,” kata Jubaidi yang berkumis tebal.

Kini, warga Desa Margomulyo turut menjadi penjaga taman nasional. Beberapa kali mereka melapor ketika mengetahui ada orang luar berusaha masuk dan mencoba pembalakan di kawasan TNBBS. Koordinasi dan komunikasi yang terjalin sejak beberapa tahun terakhir menjadi kunci keamanan TNBBS dari perambahan.

“Tantangan terbesar adalah membuat warga merasa nyaman dengan polisi kehutanan. Setelah itu, mereka justru menjadi garda depan ketika ada oknum perambah yang coba-coba mengganggu kawasan (TNBBS),” ujarnya.

Berkawan dengan Gajah

Selain menjadi penjaga taman nasional, warga Margomulyo juga mengais rezeki tanpa mengusik satwa di kawasan TNBBS. Setiap lima bulan, dua kelompok gajah rutin mendekati desa. Keduanya bernama Bunga dan Citra. Posisi kawanan gajah itu dipantau lewat global positioning system (GPS) collar.

Kawanan Citra baru saja mendekat ke desa pada November lalu. Biasanya, kawanan gajah tersebut berada dekat permukiman warga selama dua malam.

“Dahulu, warga banyak menanam pisang dan buah lain yang disukai gajah. Sekarang, kami kurangi biar gajah jangan sampai terpancing ke luar kawasan karena tanaman itu,” kata Binarno, Sekretaris Desa Margomulyo.

Kini, warga kebanyakan berkebun pala, kopi, kakao, dan lada. Petani menjual pala kering ke tengkulak sekitar Rp35 ribu per Kg. Sedangkan bunga pala dijual Rp210 ribu per Kg. Warga panen pala setiap hari. Jumlahnya sekitar 2-5 kuintal.

“Pala ini lumayan juga harganya. Gajah enggak suka pala, jadi relatif aman,” ujarnya.

Dahulu, warga beberapa kali berkonflik dengan gajah. Hal itu karena kawanan gajah terganggu dengan pembalakan ditambah tanaman warga desa yang mengundang selera gajah. Dengan kreativitas dan tanggung jawab turut menjaga kawasan, kini warga dapat bertani dengan aman tanpa konflik dengan satwa.

“Kalau dahulu ada konflik, yang salah memang bukan satwanya. Manusianya yang memilih hidup dekat hutan dan menanam buah yang disukai gajah,” kata Binarno.

Warga Desa Margomulyo disebut merambah ke dalam kawasan hingga 2010. Lewat pendekatan persuasif, warga secara perlahan menghentikan kebiasaan merusak hutan. Sekarang, banyak dari mereka memilih berkebun dan beternak.

Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Satwa liar dari kawasan TNBBS, seperti harimau dan beruang, beberapa kali memangsa ternak warga. Meski demikian, satwa tidak menyerang manusia. Menghadapi kondisi itu, warga kemudian membentuk satgas penanggulangan konflik satwa dan manusia.

“Mbah Gede, sebutan kami pada gajah TNBBS, saat ini juga relatif tenang. Mungkin karena kami sudah enggak menanam pisang yang jadi kesukaan gajah,” ucap Suyono, Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Mulyo Lestari.

Ekonomi Kreatif

Selain berkebun dan beternak, warga yang tergabung dalam kelompoknya juga membuat kerajinan tangan dari kayu dan batok kelapa. Produknya antara lain patung gajah dan gantungan kunci.

“Warga desa juga membuat kerajinan yang bisa dijadikan suvenir. Misalnya, gantungan kunci bentuk siger dan lumba-lumba,” ujarnya.

Sebelum pandemi, kelompok tani itu bisa mendapat banyak pesanan suvenir pesta. Namun, sejak merebak pagebluk, produksi kerajinan tangan terhenti karena nihil permintaan. Salah satu produk andalan adalah patung gajah dan badak dari kayu mahoni yang dibanderol Rp110 ribu.

Desa Margomulyo potensial menjadi sentra suvenir. Area yang ditanami mahoni di desa tersebut sekitar 10 hektare. Perlu perhatian pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk membantu mereka dalam memasarkan produk. Sehingga, ekonomi warga kembali aktif.

“Segenap warga desa mendukung pelestarian TNBBS,” sebut Suyono.

Pengamat ekonomi kreatif Tuti Agusrini mengapresiasi upaya warga desa dalam menggali potensi diri dan potensi alam tanpa merusak TNBBS. Pemerintah dan pihak swasta diharapkan segera memberi bantuan, baik berupa pelatihan hingga permodalan, agar kerajinan kreatif di sana bisa berkembang. Dalam ekonomi kreatif, tantangan terbesar adalah pemasaran.

Salah satu pelatihan yang dipandang mendesak adalah marketing digital. Penjualan secara digital dinilai efektif dalam promosi dan pemasaran produk ekonomi kreatif pada masa pandemi.

“Harus ada dukungan nyata, misalnya dari Dinas Pariwisata, agar semangat warga tidak padam pada masa pandemi ini. Tanpa fasilitasi, mereka bisa saja goyah dan berisiko kembali merambah,” ujarnya.

Berdasar data open area kawasan konservasi pada 2017 dari Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA), pencapaian target Kebijakan Satu Peta (KSP) sesuai Perpres 9/2016, yakni seluas 46.655,94 hektare berada di zona rehabilitasi. Sementara, 8.509,42 hektare berada di zona lain. Perinciannya, pemanfaatan seluas 6.007,05 hektare; zona rimba seluas 2.188,31 hektare; zona tradisional seluas 139,39 hektare; zona inti seluas 125,14 hektare; zona khusus seluas 47,81 hektare; dan zona religi seluas 1,72 hektare.

“Balai Besar TNBBS dan para pihak mitra bersama Balai Pengelolaan DAS Way Seputih, Way Sekampung, telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kondisi area terbuka menjadi hutan kembali,” kata Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto.

Langkah tersebut dengan merehabilitasi hutan serta pemulihan ekosistem di zona rehabilitasi seluas 14.544,28 hektare. Melalui upaya tersebut, maka open area yang masih perlu dipulihkan ekosistemnya di zona rehabilitasi sekitar 23.602,30 hektare.(*)

Delima Natalia Napitupulu, jurnalis Lampung Post

Catatan: Liputan ini bagian dari “Lampung Journalist Fellowship Program 2020” AJI Bandar Lampung-Bestari. Hasil peliputan juga dimuat di Lampost.co.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed